Yusuf Asy’ari

social justice for all

August 5th, 2008

KAPOLDA VERSUS DUREN

Pada tanggal 30 dan 31 Juli 2008 saya berkesempatan ke Pekanbaru dalam rangka menghadiri Musda DPD REI Provinsi Riau. Pada malam Kamis sewaktu acara  welcome party, saya duduk berendeng dengan Gubernur dan Kapolda Riau. Karena Gubernur ada acara lain, beliau meninggalkan hotel, sehingga saya duduk berendeng dengan Kapolda.

Eh, tahu-tahu pak Teguh Satria, Ketua Umum DPP REI yang juga duduk semeja menawarkan apakah saya mau duren. Sebelum saya sempat menjawab, Kapolda dengan serius mengingatkan saya agar jangan makan duren. Read the rest of this entry »

February 18th, 2008

Pecel Bu Kus Surabaya

Orang biasanya mencatat bahwa pecel yang kondang adalah dari Madiun. Tetapi ternyata di Surabaya ada juga pecel yang kondang, yaitu Pecel Bu Kus. Saya diajak sdr.Alisyahbana, kepala sekretariat tetap Bapertarum, pergi ke warung Bu Kus di kawasan Wonokromo, tepatnya jl.Baratajaya atau dikenal juga dengan jalan Bratang. Pecelnya moderat, tidak terlalu pedas, terdiri dari sayuran daun singkong, kacang panjang, tauge, kemangi ditambah kering tempe, srundeng dan peyek. Lauk lengkap dari daging sampai tempe dan tahu bacem. Mau bawa pulang untuk oleh-oleh, bisa! Pesan saja pecel dibungkus dengan box styrofoam (atau plastik), terus masukkan box karton, beres. Tinggal kirim dengan bagasi pesawat. Nah, teman-teman blogger yang sering ke Surabaya boleh coba. Apalagi buat mereka yang sudah kelebihan kolesterol dan asam urat. Cukup beli pecel lauk tahu tempe saja.

 

~M. Yusuf Asy’ari~

January 14th, 2008

BUAT PENCINTA BRONGKOS

Barangkali ada yang belum tahu apa itu “brongkos”. Brongkos adalah semacam lauk yang dimasak dengan kuah, biasanya terdiri dari daging, telur burung puyuh, tahu, krecek dan kacang tholo, disertai bumbu kluwak, sehingga warnanya hitam, seperti masakan rawon Jawa Timur atau semur Betawi. Brongkos disertai pula cabe utuh, sehingga penikmat dapat menyesuaikan kadar kepedasan yang diinginkannya.
Untuk teman-teman blogger yang berkunjung ke Yogyakarta, terutama mereka para “alumni” Yogya, sekarang dapat merasakan brongkos di restoran yang tidak begitu besar, arahnya dari Bioskop Permata keutara, kira-kira seratusan meter ada disebelah kanan jalan. Tentu restoran ini tidak hanya jual brongkos tapi juga masakan lain yang khas Jawa. Khusus teman-teman anggota REI saya kasih tahu bahwa yang uka restoran ini adalah putra Pak Henny (ketua REI DIY). Nah, kalau ke Yogya, sempatkan mampir menikmati “brongkos” Yogya.

October 8th, 2007

WISATA KULINER DI SOLO LAGI

Saya beberapa kali mengunjungi kota solo. Dulu selalu diajak ke Nasi Liwet Bu Wongso Lemu. Kemudian diperkenalkan dengan bebek goreng Kang Slamet di Kartasura. Saat ini rupanya acaranya lain. Pak Djokowi, Walkot Solo mengajak buka puasa di bakmi Kang Dui, kemudian waktu sahur kembali mengajak menikmati Gudheg Ceker, yah apa boleh buat, selusin ceker amblas habis. Kami waktu itu bergurau, pasti besok pagi lari kita semakin cepat, kan sudah banyak makan kaki ayam?! Rupanya memang Solo kaya dengan makanan, karena saya masih ditantang oleh Pak Rudy Wk.Walkot Solo untuk juga ke soto Nggading dan juga Aneka Macam Minuman. Belum kalau kita bicara tentang Selat Solo, Srabi Solo dan lain-lain, memang untung dan enaknya kota Solo, lalulintas masih longgar dan lancar, jalannya lebar-lebar, makanan banyak dan murah.
Nah, siapa bisa menambah makanan Solo yang terkenal?

Kita dengar orang berpidato
Sambil duduk kita bersila
Hebat benar Walikota Solo
Menggusur PKL dengan sukarela.

April 18th, 2007

Wisata Kuliner di Solo

WISATA KULINER DI SOLO

Solo memang pantas dijuluki kota yang tak pernah tidur. Bayangkan, jam 02.00 malam (pagi?) masih ada gudeg ceker yang baru buka. Di Keprabon, kita bisa mendapatkan nasi liwet. Menu lain di Solo adalah tengkleng, bagi yang suka kambing. Gudeg, sate, bakmi dan tongseng tentu sudah biasa. Kali ini yang ingin saya kemukakan adalah bebek goreng. Sekarang ini menu bebek goreng ada diseantero kota Solo. Salah satu yang terkenal adalah bebek gorengnya pak Slamet yang berpusat di Kartasura. Saya katakan berpusat, sebab di kota Solo kalau tidak salah di Jalan Bayangkara anaknya juga buka warung bebek goreng. Uniknya, kalau si ayah di Kartasura buka dari pagi sampai jam 13.00 (siang), sang anak buka dari siang sampai malam. Alangkah malangnya jadi bebek di Solo. Sayang wisata kuliner yang tidak mahal di Solo ini tidak disertai pertunjukan budaya yang memadai. Wayang Orang di Sriwedari sudah sedemikian mundur, begitu juga Sri Mulat yang pernah bermarkas di Solo. Barangkali wisata budaya di Solo akan semarak lagi kalau kota Solo-Baru sudah selesai dibangun.
Nah, anda yang sering ke Solo, selamat menikmati bebek goreng!

November 29th, 2006

Sari Husada dan Bakmi Mbah Mo

Selasa kemarin (28 November) saya ke Yogyakarta bersama istri, meresmikan perbaikan dan pembangunan kembali 510 rumah korban gempa yang dibiayai oleh Royal Numico N.V. dan PT Sari Husada, itu lho produsen susu. Ada CEO Royal Numico N.V., Jan Bennink, dan PresDir Sari Husada, Budi Satria Isman. Saya sempat berkunjung ke rumah-rumah baru itu di Desa Kemudho, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Memang rumah-rumah itu diperuntukkan bagi para karyawan Sari Husada sendiri, tapi pemerintah juga ikut berterimakasih atas inisiatif itu dan malahan saya ingin agar perusahaan-perusahaan lain juga meniru langkah itu. Dengan begitu, para karyawan mereka bisa lebih produktif dan secara keseluruhan memberi manfaat lebih besar.

Malam harinya, saya diajak ke Desa Code “mengunjungi” Mbah Mo. Itu penjual bakmi rebus. Warungnya sederhana, duduk juga di lincak. Tapi paling sedikit ada empat mobil sudah antri waktu saya datang. Dan bakminya…enaaak! Sebenarnya lidah saya masih ingin tambah, tapi saya tidak berani. Soalnya sudah malam. Bahaya, untuk perut!