Kamis siang tanggal 14 Februari 2008, dilakukan peletakan batu pertama rusunawa untuk UHAMKA di Pasar Rebo J
~M. Yusuf Asy’ari~
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Oct | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | |
Kamis siang tanggal 14 Februari 2008, dilakukan peletakan batu pertama rusunawa untuk UHAMKA di Pasar Rebo J
~M. Yusuf Asy’ari~
Kamis, 14 Februari 2008 yang lalu, dilakukan penanda tanganan perjanjian kerjasama antara Bapertarum dengan 10 BPD dihotel
~M. Yusuf Asy’ari~
Rabu, 13 Februari 2008, saya ke B
Dari puslitbangkim saya meninjau rumah bambu. Ternyata bambu juga bisa dibuat bahan rumah yang tidak kalah baiknya dengan bahan lain. Peninjauan rumah bambu ini merupakan kelanjutan dari peninjauan rumah bambu di Bali minggu sebelumnya yang dikembangkan oleh orang barat dari K
~M.Yusuf Asy’ari~
Minggu kedua bulan Februari tampaknya jadi minggu pembangunan rusunami (rumah susun sederhana milik) bagi saya.
Pada hari Ahad tanggal 3 Februari 2008, saya diundang oleh PT.Modernland Realy Tbk, untuk menyertai grand launching rusunami di kota Tangerang yang direncanakan sebanyak tiga tower masing-masing 10 lantai. Harga maksimum 144 juta per unit.
Pada hari Senin 4 Februari 2008, saya diundang memulai ground breaking bersama Pak Fauzi Bowo untuk 14 rusunami di Kelapa Gading yang dibangun oleh Agung Podomoro Group. Sebagian 20 lantai dan sebagian lagi 22 lantai, sehingga total 6.000 lebih unit yang terbangun.
Hari Rabu tanggal 6 Februari 2008, saya akan memancangkan tiang pondasi pertama untuk rusunami di Kali Malang (masuk wilayah Bekasi) yang dibuat mixed use, yaitu sebagian untuk ruko dan sebagian lagi untuk hunian bagi masyarakat menengah bawah. Rusunami ini dibangun oleh PT. Mitra Safira Sejahtera, yang juga berencana membangun rusunami di Rancaekek Bandung.
Satu hal yang menggembirakan adalah kenyataan bahwa meski tower itu belum jadi, tetapi yang sudah pesan untuk membeli sampai sekitar 75%. Sangat signifikan. Sehingga saya berpikir adalah tidak benar bila rakyat kita tidak suka dengan rumah susun, apalagi di Jakarta yang hari-hari masih terancam banjir.
Rusunami di Tangerang yang dibangun oleh Modernland dijual mulai dari sekitar Rp.94,-juta/unit. Di Kelapa Gading mlai dari sekitar Rp. 88,-juta/unit dan di Kalimalang mulai dari Rp.75,- juta/unit untuk tipe 22.
Semoga dengan masuknya pengembang-pengembang besar ke rusunami, pasar rusunami akan semakin berkembang.Amin (04-02-08)
PANTUN RUSUNAMI
(dibacakan pada sambutan di Agung Podomoro Group)
Dalam setiap jamuan
Kita harus bersikap santun
Dalam setiap pertemuan
Kurang elok bila kita tidak berpantun
Kera hitam itu namanya lutung
Kalau marah dia selalu unjuk gigi
Bikin rusunami memang tidak selalu untung
Yang penting kita semua tidak rugi
Jualan kain ke pasar Tanah Abang
Ternyata hasilnya untung lumayan
Membangun rusunami jangan hanya berniat dagang
Tetapi harus juga disertai niat ”pengabdian”
Bila ingin jadi juara
Mesti berlatih keras semampunya
Menteri Perumahan Rakyat adalah Cosmas Batubara
Sedang Mohammad Yusuf Asy’ari adalah penggantinya.
+) Bp. Cosmas Batubara adalah Komisaris Utama Agung Podomoro, yang hadir saat itu
(04-02-08)
8 Februari 2008 (Peresmian Rusunami Kalimalang)
Pohon yang sehat banyak berdahan
Sehingga daunnya kelihatan rimbun
Bila kita datang kepertemuan
Sebaiknya dibacakan juga pantun
Ikan gurame telurnya banyak
Bila tidak menetas banunya amis
Bangun rusunami katanya tidak enak
E, ternyata laris manis
Hari panas bikin kita gerah
Sebaiknya istirahat di ruangan
Bikin rusunami katanya susah
Bikin satu ,e, ternyata ketagihan
Kalau kita senang bikin syair
Jangan lupa dibumbui kata penyedap
Bikin rusunami tak perlu khawatir
Insya Alloh dapat pahala dunia akhirat
Bila kita tanam padi disawah
Jangan lupa pilih bibit genjah
Kita boleh bikin apartemen mewah
Asal jangan lupa rusuna untuk menengah bawah
(06-02-08)
Pedagang berjalan sehari penuh
Keliling menjajakan sepasang kusen
Elok benar ditahun dua ribu tujuh
Serapan subsidi naik enam puluh persen
Lho, kok 60% itu hitungan dari mana?
Ditahun 2006 subsidi yang tersedia Rp.250 milyar. Ternyata pada akhir 2006, subsidi habis, malah kurang, sehingga ada Rp.75 milyar yang di carry over ke tahun 2007. Jadi serapan subsidi di tahun 2006 ada Rp.250 milyar + Rp.75 milyar = Rp. 325 Milyar. Tahun 2007 ada subsidi Rp.300.milyar, terpakai untuk bayar tahun 2006 Rp.75 milyar. Diakhir tahun 2007 ternyata dibulan september sudah habis. Sampai dengan Desember 2007 ada sekitar Rp.300 milyar yang harus dicarry over ke 2008. Jadi Total serapan ditahun 2007 adalah Rp.300 milyar - Rp.75 milyar + Rp.300 milyar = Rp.525 milyar. Dibanding dengan tahun 2006 bararti 161,53 %. Jadi naik sekitar 60%, Gitu lho?!
Dalam banyak kesempatan saya senantiasa mengkampanyekan perkuatan kelembagaan di bidang perumahan dan pemukiman. Tujuannya tidak lain, tidak bukan adalah memudahkan koordinasi antara berbagai instansi terkait, misalnya antara pemerintah daerah sebagai pemroses perijinan dengan penyedia infrastruktur, seperti listrik dan air minum. Apalagi sudah ada penegasan pemerintah pusat bahwa urusan perumahan dan permukiman adalah urusan wajib pemerintah daerah.
Namun ternyata koordinasi masih tetap barang langka. Reaksi pemerintah daerah terhitung masih beragam, termasuk dalam hal pembentukan instansi khusus yang mengurusi perumahan. Kalau masih menempel pada instansi pekerjaan umum misalnya, maka pejabatnya ada dalam golongan ruang kepangkatan dengan eselonisasi yang rendah. Hal itu sama sekali tidak mencerminkan urusan papan ini sebagai kebijakan penting, prioritas dan kebijakan pro poor kabinet ini.
Belum lagi kebijakan anggaran yang masih jauh di bawah 1 %. Termasuk yang diusulkan untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2008, yang meskipun ada peningkatan namun masih jauh dari 1 %. Padahal pemanfaatan subsidi perumahan di 2007 ini sudah melebihi anggaran, sehingga sebagian yang belum terealisir harus carry over ke 2008.
Jadi untuk sementara ini slogan nasional sandang, pangan dan papan yang disandang Kemenegpera yang pada periode Presiden Abdurahman Wahid dan Megawati sempat ditiadakan, masih belum sepenuhnya mampu direalisasikan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah