Pada tanggal 30 dan 31 Juli 2008 saya berkesempatan ke Pekanbaru dalam rangka menghadiri Musda DPD REI Provinsi Riau. Pada malam Kamis sewaktu acara  welcome party, saya duduk berendeng dengan Gubernur dan Kapolda Riau. Karena Gubernur ada acara lain, beliau meninggalkan hotel, sehingga saya duduk berendeng dengan Kapolda.

Eh, tahu-tahu pak Teguh Satria, Ketua Umum DPP REI yang juga duduk semeja menawarkan apakah saya mau duren. Sebelum saya sempat menjawab, Kapolda dengan serius mengingatkan saya agar jangan makan duren. Kata beliau banyak kejadian-kejadian tidak enak terjadi setelah orang makan duren, tanpa beliau sebutkan apa kejadian itu. Saya pikir beliau sedang bergurau, ternyata tidak, sebab hal ini beliau ulang beberapa kali. Barangkali karena melihat saya diam saja kecuali senyum-senyum, beliau akhirnya bertanya: ”Apa Bapak mau makan duren?”. Saya jawab:” yaah, biasanya saya rame-rame ngombyongi teman-teman”. Setelah itu memang betul datang duren kemeja kami. Ternyata rasa duren saat itu bukan main; legit, harum, lezat dan sedikit pahit. Itulah rasa duren yang paling top menurut saya, tidak seperti rasa duren bangkok, meskipun dinamakan monthong. Saya tengok sebelah, eh ternyata pak Kapolda serius tidak mau duren. Wah, saya jadi kurang enak hati. Disatu pihak ada duren yang jarang tandingannya, dilain pihak saya mestinya menghormati pak Kapolda. Jadi dapatlah jalan tengahnya, saya makan duren cukup dua biji saja. Dua biji lho bukan dua buah duren!Bicara-bicara soal duren, saya baca disalah satu majalah (lupa namanya) yang mengatakan bahwa buah alpokat dan duren adalah buah yang sangat banyak kandungan lemaknya. Tetapi konon, lemak ini tidak berbahaya, karena ini lemak tak jenuh. Nah, lho!!!