Detik.Com Semarang
Tiga menteri ‘berkoalisi’ mengambil langkah bersama. Mereka meresmikan pembangunan rumah bagi buruh di
Menurut rencana, pada tahap awal, pemerintah membangun 200 rumah dan diperkirakan selesai pada Agustus tahun ini. Setelah itu, pembangunan akan dilanjutkan hingga mencapai 2000 unit. Menakertrans, Erman Suparno mengatakan, dalam pembiayaannya, rumah bertipe 21 itu disubsidi pemerintah. Kementerian Perumahan Rakyat mengeluarkan dana Rp 7,5 juta - Rp 14 juta per unit dan Kementerian PU menyediakan fasilitas dan infrastruktur. “Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sendiri akan memberi berapa, Bu Dirjen?,” tanya Erman kepada jajarannya.
“Rp 1,5 juta per unit. Ya, cuma Rp 1,5 juta. Lumayanlah, buat mengurangi biaya administrasi pembelian rumah,” kata Erman disambut tepuk tangan dan tawa ratusan peserta.
Usai memberi sambutan, acara dilanjutkan dengan peletakan batu pertama dan penanaman pohon mangga di sekitar lokasi perumahan yang berada tak jauh dari pantai itu. Cuaca terik mengiringi prosesi tersebut. ( try / djo )
Wah bagus sekali ini. Semoga diikuti oleh menteri2 yg lain.
JEMUR GIGI vs UNJUK GIGI
TITIP, TITIP, TITIP ….
Kemenpera memang sangat diharapkan sebagai menko di bidang perumahan dan permukiman. Namun dari aspek perencanaan, pemrograman dan penganggaran, atau terjemahan dari RKP / RKAKL, bisa dikatakan kurang menunjang atau tak sinkron dengan harapan tsb. Target fisik unit rumah terbangun, selain menjadi harga mati malah menjadi kartu mati. Walau anggaran DIPA tak bisa naik secara signifikan, terobosannya dengan koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang perumahan dan permukiman harus diandalkan. Siapa berbuat apa, dimana, kapan, seberapa, bilamana harus dipadukan oleh kemenpera.
Kalau perlu mencermati fungsi, subfungsi, program, dan kegiatan dalam RKP / RKAKL yang berbasis dan mengacu pada perumahan dan permukiman, sehingga bisa dicari berbagai kemungkinan. Sisi lainnya, selain pola “titip uang” di tingkat pusat, bisa juga mengembangkan pola “titip tangan” ke organisasi perangkat daerah di provinsi maupun organisasi perangkat daerah di kabupaten / kota. Lembaga yang sudah ada ditingkatkan kapasitasnya dan muatannya.
Pertimbangan dari sisi lainnya, dengan metode serba D zaman Orde Baru yang ternyata masih berlaku sampai akhir RI-1 ke 5, atau dengan pola “titip nafas” agar seirama, senada, sealiran dan sesama pemain tidak boleh saling mendahului. Berlaku prinsip bahwa orang tidak hanya pandai saja, tetapi harus juga pandai-pandai. Jangan merasa bisa, yang betul adalah bisa merasa. Bisa-bisa semakin bisa merasa malah tidak bisa membedakan rasa, karena mengandalkan perasaan, khususnya perasaan untuk mengkasihani diri sendiri.
Para pemangku kepentingan utawa stakeholders, harus disinerjikan sesuai dengan peran dan kapasitas masing-masing. Tak kalah pentingnya, potensi SDM di lingkungan Kemenpera harus dimanfaatkan secara man to man. Mengacu pada birokrasi yang konvensional, banyak SDM Kemenpera datang hanya untuk jemur gigi, bukannya unjuk gigi atau kemampuan. Pola kerja atau budaya kerja kemenpera harus beda semisal dengan departemen teknis, banyak hal tak tertulis yang harus dilaksanakan dan dicapai.
Salah satu prasyarat keberhasilan program pembangunan adalah ketepatan pada pengidentifikasian target group dan target area. Berbagai macam pendekatan, maka pendekatan berikut :
Regional (kawasan) = menurut wilayah di mana masalah itu terjadi.
Comparative (perbandingan) = membandingkan berbagai pendapat atau objek penelitian sehingga dapat diketahui persamaan dan perbedaannya.
Topical (topik) = mengkaji masalah dengan cara mengelompokkannya dalam topik-topik tertentu.
dapat dipakai sebagai pendekatan dalam mencari formula pembangunan perumahan dan permukiman berbasis masyarakat (hn).
wah koq sekarang jarang di update pak??
* nungguin pantun-pantun yang lainnya
Disaat kaum buruh menuntut kenaikan upah, akibat fluktuasi harga BBM, pemerintah melakukan terobosan jitu dgn menggandeng 3 menteri melakukan pembangunan rumah bagi buruh….. moga-moga ini jadi momentum dalam menghadirkan “rumahku adalah surgaku” bagi kelompok MBR….
R encanakan hidup dengan jalan ridho Illahi
U ntuk menggapai hunian yg layak
M impikan angan-2 jadi nyata didepan mata
A gar semua MBR dpt. sejahtera lahir bathim
H idupmu adalah napas dan gerak ekonomi bangsa
Untuk sdr.Herwin Nur:
Terima kasih untuk komentar2nya. Memang banyak hal-hal yang “harus” dilakukan. Mudah2an kedepan daftar “harus” itu bisa berkurang. Dikomentar anda saya hitung ada “enam harus”. semoga ada sebagian harus yang dapat diaplikasikan.
Salut untuk Pak Yusuf.
Semoga 2010 semua Menteri punya blog
Pak Yusuf, mungkin perumahan rakyat kalau tersebar sampai kedaerah bisa mengurangi tingkat urbanisasi, kalau terpusat di Jakarta semua, semua orang pasti ingin ke Jakarta karena disana mereka bisa punya rumah murah disubsidi pemerintah, sedangkan dikampung sendiri tidak.
Sedikit unek2 dari saya pak
Semoga Kita semua senantiasa dalam lindunganNya
Amin