Menjelang tahun baru Islam 1429 Hijriyah, saya mendapat kado istimewa, yaitu kunjungan para murid Taman Kanak-Kanak Al Azhar pada hari Rabu pagi didampingi para ibu gurunya. Al Azhar memang bertetangga dengan Kemenpera dikawasan Kebayoran Baru. Mereka ternyata tidak hanya berkunjung kepada saya, tetapi semua murid dibagi kesemua kedeputian Kementrian Negara Perumahan Rakyat. Meriah sekali suasana saat itu. Sekitar sepuluh anak masuk keruang kerja Menteri Perumahan Rakyat. Mereka menghadiahi berbagai lukisan – tentu lukisan anak-anak – dan juga kipas dan ballpoint. Sungguh mengharukan.
Mereka bertanya macam-macam, dari luasnya kantor Menpera sampai pertanyaan berapa umur saya. Juga ditanyakan apakah saya punya kolam renang dirumah ( wah, nuwun sewu “tidak punya”, yang saya punya kolam kecil untuk ikan ). Mereka juga tanya apa mobil saya. Diantara celoteh mereka, yang paling mengharukan adalah maksud mereka datang untuk mengucapkan “Selamat Tahun Baru Islam”. ( semoga semangat ber-Islam terbawa sampai mereka tua , husnul khotimah)
Karena itu, pada saat ini sayapun ingin mengucapkan “Selamat Tahun Baru 1429 H” kepada teman-teman blogger yang beragama Islam, semoga tahun-tahun mendatang kita, bangsa dan Negara akan lebih mendapatkan berkah kehidupan yang lebih baik. Amin ya Robbal ‘Alamin.
Pak Menteri, tertarik pada opini MPR, saya copypaste-kan :
DI BAWAH BENDERA REFORMASI
Siklus lima tahunan, siklus sepuluh tahunan KKN telah menjadi lagu wajib birokrasi, entah yang sedang bertengger di eksekutif, yang keenakan nongkrong di legislatif maupun yang lagi asyik nangkring di yudikatif. Di tingkat otonomi di daerah, walau telah memakan korban, KKN tetap menjadi menu favorit dan pilihan utama.
Benang merah dari KKN versi Reformasi adalah jalur partai politik yang menggurita. Liga daerah sampai liga nasional lima tahunan memang mempunyai daya pikat dan daya tarik tersendiri. Antara petualang, pialang dan pejuang nyaris tanpa batas jelas. Pagi sekutu, malam jadi seteru. Untuk urusan tertentu, terkait balas budi atau balas jasa beda warna bisa jadi sekutu. Untuk urusan berbasis balas dendam, walau satu warna bisa jadi seteru.
Semua menjadi jelas, tatkala sang reformis mengincar kursi, dengan bahasa terangnya ada pamrih. Padahal, kata orang bijak, reformis tugasnya hanya sampai masa pancaroba. Masa transisi antar generasi tidak butuh waktu lama, walau sebelumnya tak ada pengkaderan. Pergantian antar generasi memang bisa bak Bharatayudha, kalau masing-masing pihak tidak merasa kalau kepercayaan adalah amanah. Yang kalah maupun yang menang tidak legawa atau ikhlas menerima kenyataan. Artinya, yang menang berupaya nantinya jangan sampai menjadi pihak yang kalah. Begitu juga yang sedang menyandang kekalahan, akan berupaya untuk kembali menjadi pihak yang menikmati kemenangan.
Secara politis, tepatlah pepatah bahwa menang jadi arang, kalah jadi sampah. Akhirnya, untuk menjadi politisi sipil hatus pandai-pandai, tidak sekedar pandai secara akademis. Pandai membaca peluang, cerdas menempatkan diri, cerdik menyesuaikan diri, pintar mencari pegangan.
Kembali ke benang merah KKN, jiwa KKN merajut dua kutub sekaligus yaitu kutub balas jasa utawa balas budi dengan kutub lainnya yaitu balas dendam. Jangan heran bin takjub, ketika seorang politisi sipil sedang mengemban amanah di birokrasi, peran ganda pun terpaksa dilakukan. Gebrakan dan gerakan sekitar upaya memuliakan parpol pengutusnya. Tragisnya, para politisi sipil atau politikus tadi terkadang tidak menyerahkan urusan kepada ahlinya. Memang pertimbangan politis telah dilakukan untuk menjaring, menyaring, memilih atau memilah pejabat yang berkompeten. Jabatan birokratis tidak bisa dilihat dengan kacamata politik, terlebih pada strata yang menangani substansi. Jika ada pemaksaan kondisi, praktis institusi yang bersangkutan akan mengalami, mulai dari jalan di tempat sampai kemungkinan jalan mundur. Organisasinya bukannya menjadi ramping dan kaya fungsi, mungkin malah mirip dinosaurus. Organisasi dinosaurus, utawa model kang Dino, adalah yang mendadak banyak orang menjadi kaya dan fungsinya beraliran minimalis.
Pucuk pimpinan di kang Dino, akan dibebani oleh tubuhnya yang besar. Para pembantu, baik pemikir maupun operasional. yang seharusnya menjadi daya dorong atau motor organisasi malah menjadi beban tak berkesudahan, menjadi bumerang atau penggerogotan dari dalam secara sistematis.
Salam Kenal Pak Mentri ..
Tulisannya kok enak dibaca, rancak, dan jurnalis banget.
Bagaimana cara belajar menulis seperti Bapak?
Ass. Wr. Wb.
Di daerah ana ada banyak ustadz-ustadz yang tidak punya rumah layak. Mohon pak menteri bisa membantu mereka. Insya Allah lebih barokah bagi Bangsa Indonesia.
Akhukum Fillah, Erwin Hamdani
Kp. Cimaragas RT.02 RW. 04 Desa Ngamplangsari
Kecamatan Cilawu Garut.
(081323105545)
Ass….Salam kenal Kang dr ane Popi Adiyes Putra (PB PII)…kita Kader PII punya komunitas blogger, kami mengharapkan akang juga bisa ikut mengirimkan pesan dan saran di dalamnya….ini alamatnya kang http://www.dunia.pelajar-islam.or.id
Buat Pak Herwin Nur :
Yah, menatap masa depan, saran saya jangan hanya dengan kacamata buram yang penuh pesimisme serta opini negatif. Cobalah kacamata itu diganti yang bening. Segera akan kita lihat mana-mana yang sudah atau sedang berjalan baik dan mana-mana yang masih kurang baik hingga perlu kita dorong. Ingat, semua kita bertanggung jawab langsung dan individual dihadapan Allah SWT.
Kanghari,
jangan begitu ah; kan bikin saya malu! Yang jelas, kalau saya nulis untuk blog, saya anggap saja saya berhadapan dengan Anda.
Akh Erwin,
untuk para Ustadz, dapat menghubungi BMT-BMT atau koperasi syariah setempat yang sudah ada kerjasama dengan Kemenpera untuk menyalurkan KPR + subsidinya. Doa dan saran antum tetap saya harapkan
Terima kasih atas tanggapan Pak Menteri. Ingat pantun yang bapak bacakan 29 Januari 2008, saya coba buat pantun (sopan santun), atau entah apa namanya yaitu :
OMAH lan OMAH-OMAH
Jarene simbah
Sopo sing arep omah-omah
Becike wis duwe omah
Ora ketang kamar sak wadah
Ning endi wae tetep tlatah
Utowo diwiwiti soko duwe lemah
Nabung duit iso bangun tambah
Sing penting iso turu nglumah
Sing penting iso kumpul polah
Sing penting iso kanggo nyembah
Sing penting iso kanggo ngaso bocah
Sing penting iso olah-olah
Sing penting iso umbah-umbah
Sing penting iso obah-obah
Sing penting urip ojo digawe susah
Syukur iso kumpul nganti putu wayah
Ora kuwatir digusah
Utowo tuku omah
Sing regane lumrah
Iso dicicil sak wayah
Ojo njagake dum-duman pemerintah
Nek wis manggon ojo urip congkrah
Nek wis bebrayat ojo nganti bubrah (hn)
Pak Yusuf Asy’ari, ada salam dari Ibu Mutmainah di Songgengan, Muntilan, Jawa Tengah.
as wr wb.
pak menteri, ana rizani, saat ini diamanahi untuk menjadi presiden JALINS. Jalins sendiri merupakan kepanjangan dari Jaringan LKM Syariah Indonesia Sejahtera.
Alhamdulillah walau baru berdiri pada tanggal 29 nopember 2007, namun kami telah mempunyai banyak aktivitas dan program. Salah satunya belum lama ini kami telah mengajukan KPRS bersubsidi. Tidak banyak hanya 84 unit rumah.
Ana sendiri selain menjabat sebagai presiden Jalin saat ini menjadi ketua KBMT Dana UKhuwah.
BMT ana telah berusia 12 tahun dan saat ini assetnya baru mencapai 5 milyar.
mudah-mudahan bisa terus terjaga, ya ustadz!
wassalamu’alaikum wr wb.
muhammad rizani