Dalam banyak kesempatan saya senantiasa mengkampanyekan perkuatan kelembagaan di bidang perumahan dan pemukiman. Tujuannya tidak lain, tidak bukan adalah memudahkan koordinasi antara berbagai instansi terkait, misalnya antara pemerintah daerah sebagai pemroses perijinan dengan penyedia infrastruktur, seperti listrik dan air minum. Apalagi sudah ada penegasan pemerintah pusat bahwa urusan perumahan dan permukiman adalah urusan wajib pemerintah daerah.
Namun ternyata koordinasi masih tetap barang langka. Reaksi pemerintah daerah terhitung masih beragam, termasuk dalam hal pembentukan instansi khusus yang mengurusi perumahan. Kalau masih menempel pada instansi pekerjaan umum misalnya, maka pejabatnya ada dalam golongan ruang kepangkatan dengan eselonisasi yang rendah. Hal itu sama sekali tidak mencerminkan urusan papan ini sebagai kebijakan penting, prioritas dan kebijakan pro poor kabinet ini.
Belum lagi kebijakan anggaran yang masih jauh di bawah 1 %. Termasuk yang diusulkan untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2008, yang meskipun ada peningkatan namun masih jauh dari 1 %. Padahal pemanfaatan subsidi perumahan di 2007 ini sudah melebihi anggaran, sehingga sebagian yang belum terealisir harus carry over ke 2008.
Jadi untuk sementara ini slogan nasional sandang, pangan dan papan yang disandang Kemenegpera yang pada periode Presiden Abdurahman Wahid dan Megawati sempat ditiadakan, masih belum sepenuhnya mampu direalisasikan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah
Yang dikuatirkan nantinya, Kementerian Negara Perumahan Rakyat berubah menjadi Kementerian Rakyat Perumahan Negara,jangan sampai terjadi.
Saya dukung Pak Menteri dalam pembagunan perumahan rakyat. Mungkin Pemerintah Pusat perlu menginstruksikan kordinasi Pemerintah Daerah dan Instansi terkait, tidak hanya sekedar mengkampanyekan..
Yap setuju dgn dimasu…(tidak hanya sekedar mengkampanyekan>>.
Meskipun kondisinya begitu, bukan berarti harus menyerah kan Pak. Justru pada kondisi ramping seperti itu ndak ada salahnya Menpera mengajak atau memfasilitasi kelembagaan masyarakat terutama yang menjadi pelanggan Menpera untuk program Perumahan Swadaya dan program Pembiayaan. Kalau urusan dengan masyarakat ini membesar saya yakin akan banyak usulan supaya Menpera juga besar. Kalau hal itu tak bisa dilakukan, mungkin banyak orang termasuk masyarakat yang layak dibantu juga merasa Menpera ndak perlu besar dan anggaran juga ndak besar. Barangkali Pak…
Untuk Sdr. Aminudin,
Pendapat anda benar. Sebenarnya banyak faktor yang berpengaruh, termasuk political will beberapa pihak. Bagaimanapun juga do’a anda saya harapkan. Insya Allah saya tidak kecil hati. Kan ada Yang Diatas ?!
yang terhormat Bp. Menteri…
perkuataan kelembagaan di bidang perumahan merupakan instrumen pembangunan yg AMAT diperlukan agar KELUARGA-RAKYAT yg belum menghuni di tempat yg layak patut menjadi perhatian serius Kementerian. sy kira mungkin dimulai dari perkuatan lembaga yg ada di masyarakat itu sendiri, semisal di jenjang rt./rw, desa, kecamatan. MAJU TRUS PA MENTERI..
Jalan-jalan ke bekasi…
banyak lahan beralih fungsi..
program bantuan langsung mandiri sbg. Solusi
agar keluarga tentram dan nyaman dalam menghuni
Burung Pipit banyak disawah, memakan padi sambil berkenala.
bedah rumah dpt. menjadi sarana , untuk mendekatkan Kemenpera pada pengguna..
sehingga kesulitan rakyat akan rumah layak huni dapat menjelma.. dan Menpera makin Menggema …..
Jalan2 dipagi hari untuk menghirup udara bersih
mohon maaf dan undur diri, sekian dan trima kasih.
info buat bapak, di desa Wringin Anom & Desa Tegalsari Kab. Ponorogo tahun 2005, telah mendapat bantuan dana guliran dari program perumahan swadaya oleh PU saat itu dan sekarang telah berkembang baik (laporan perkembangannya jika Bapak berkenan kami kirim kemana), namun kami kesulitan dana guliran yang tidak sebanding dengan animo masyarakat miskin yang ingin membangun rumahnya lebih baik, mungkin Bapak Menteri dapat membantu atau jika ke Ponorogo dapat mampir ke 2 desa tersebut