Barangkali karena dikejar-kejar waktu deadline, sering credo pers “covers both side”tidak bisa dicapai. Lebih parah lagi kalau datanya kurang atau tidak akurat.

Kutipan dibawah ini mungkin bisa jadi contoh betapa pers yang harusnya didukung oleh tingkat presisi yang tinggi bisa menjadi akurat. Kalau di sebuah pabrik mobil hal ini terjadi, maka bisa dibayangkan kemungkinan efeknya bagi pengguna. Oleh karena itu di pabrik mobil besar selalu ada tindakan recalling kalau terjadi kesalahan kurang akurat atau presisi yang tertinggal.

Kutipan dimaksud adalah menyangkut menteri negara perumahan rakyat, anggaplah ini koreksi atas inakurasi tersebut sekaligus hak jawab saya :

1. Di sebuah harian dalam grup Jawa Pos pernah ada liputan mengenai para menteri yang masih dipercaya melanjutkan pelaksanaan program-programnya. Nah data menteri yang lain akurat, tapi tanpa penyebutan menteri negara perumahan rakyat sebagai salah satu diantara mereka yang masih dipercaya.
2. Di harian Umum Republika tanggal 29 Juli 2007, ada liputan mengenai para menteri yang menciptakan blog sebagai salah satu cara berkomunikasi dengan para pemangku kepentingannya. Saat menyebutkan Yusuf Asy’ari, saya dikutip sebagai mantan menteri perumahan rakyat.

Saya sih tenang-tenang saja, karena pers adalah juga teman saya, asal bukan secara intentional terjadi inakurasi diatas.