Saya pernah nonton salah satu episode Oprah Show di Metro TV. Di episode itu ada kisah seorang anak yang berusia 8 tahun, tuna netra, tanpa gigi namun tampil riang. Ternyata anak itu mengidap sindrom tanpa rasa sakit, dimana si anak perempuan itu ternyata lahir tidak memiliki rasa sakit. Sindrom ini adalah kasus 1 diantara sejuta manusia.

Orang tua tidak bisa meleng sedikitpun dari perhatiannya kepada sang anak. Karena meleng sekejap sang anak akan melakukan hal-hal yang luar biasa, seperti menggigit-gigit tangannya hingga ke tulang,membentur-benturkan kepalanya ke tembok, atau mencolok kedua belah matanya sendiri, semuanya tanpa ia merasa kesakitan.

Sang ibu antara tega dan tidak tega, setelah kedua belah mata anaknya tidak bisa melihat, terpaksa mencabuti semua gigi sang anak.

Pernahkah kita membayangkankan mengalami sindrom tanpa rasa sakit seperti anak itu. Kesimpulan cepatnya, kita tidak ingin mengalami situasi serupa. Sehingga sesungguhnya rasa sakit itu berguna untuk mengerem perilaku tidak biasa sebagaimana dialami anak tersebut.

Kalau kita renungkan lebih dalam lagi, maka sebagaimana surat Ali ‘Imran (Q.S.3:191), saya kutipkan terjemahannya ” (yaitu)orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.