Para blogger, sejak awal karir profesional saya hingga kini sebagai menpera, saya nggak pernah punya pretensi untuk memuaskan semua orang. Karena apa? karena memang nggak akan pernah mungkin memuaskan semua orang dengan berbagai variasi keinginan. Ini tentu saja bukan excuse dari sebuah keharusan melaksanakan kerja secara serius, bahkan menanggapinya bak sebuah ideologi. Kalau mau joke juga ada? Saya pernah mendengar sebuah cerita mengenai seorang profesor di Universitas Indonesia. Dalam penutupnya dalam sebuah kuliah umum, dia bertanya kepada seluruh mahasiswa yang hadir, “apakah masih ada yang belum puas?” para mahasiswa yang sudah berkemas untuk segera bubaran hanya diam saja. Lalu si profesor bilang ” ya sudah. Kalau masih ada yang belum puas nggak apa-apa, karena saya memang bukan alat pemuas”

Penting saya expose kebijakan anggaran dalam APBN yang rasanya tidak mungkin memuaskan keinginan rakyat. Keberadaan kantor Menegpera yang boleh dibilang secara politis adalah bagian dari target kebijakan pro-poor dari kabinet Indonesia bersatu, menghadapi tantangan yang amat tidak ringan. Lho abong-abong (bahasa betawinya mentang-mentang) pro -poor lalu pengalokasian anggarannya juga termasuk yang terkecil dibandingkan departemen atau kementerian yang lain.

Untuk rencana awal APBN 2008, meskipun pemerintah menaikkan pagu indikatif belanja kementerian dan lembaga dengan 11,24% hingga mencapai 286, 9 trilyun dari target tahun ini 258 trilyun, Kantor Menpera anggarannya hanya 800 milyar, bandingkan dengan PU yang mencapai 34,3 trilyun, Departemen kesehatan mencapai 18,8 trilyun, Depdiknas 48,1 trilyun, Departemen Agama sebesar 16,1 trilyun. suatu perbandingan yang mencolok dan cenderung timpang mengingat misi Menegpera. Lalu dimana pro-poornya dalam hal penyediaan papan. Mau nggak mau Menpera harus bekerja keras menarik minat swasta membangun rumah. Demikian kata Ebiet G Ade “untuk kita renungkan”