RUSUNA DAN BANJIR DI JAKARTA
Saat Jakarta banjir, orang lalu ingat pentingnya rumah susun. Dalam beberapa talkshow di radio, saya selalu mendapatkan dukungan untuk membangun rusuna (rumah susun sederhana) di Jakarta; meskipun ada embel-embelnya, yaitu harganya terjangkau. Memang orang sering lupa atau sengaja melupakan bahwa salah satu tujuan pembangunan rusuna ini adalah bagaimana memukimkan kembali atau memindahakan hunian saudara-saudara kita yang ada di bantaran sungai ketempat lain yang lebih aman dari banjir, sehingga sungai juga bisa dinormalisir agar air lancar mengalir dari hulu kehilir. Ada suara yang berkomentar bahwa bagaimana para penghuni bantaran sungai bisa pindah kerusun bila harga rusun berbilang ratusan juta.
Teman ini mungkin tidak faham bahwa untuk saudara-saudara kita dari bantaran sungai, konsepnya bukan disuruh membeli; tetapi yang ada adalah menyewa. Konsepnya rusunawa bukannya rusunami. Kita juga sadar bahwa bila mereka disuruh membeli, mungkin mayoritas tidak atau belum mampu. Karena itu, kita pun juga selalu mencari akal, bagaimana caranya agar harga rusuna itu bisa dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Karena itu dikalangan teman-teman di kantor Perumahan Rakyat ada ide untuk membuat skema “sewa-beli”.
Untuk waktu tertentu, misalnya 5 tahun, mereka boleh menyewa, dimana dalam komponen sewa itu terkandung unsur tabungan untuk uang muka. Dalam 5 tahun, mereka sudah cukup menabung uang muka, lalu bisa teken akad kredit KPR ke bank, untuk selanjutnya mereka bisa mencicil dalam tempo misalnya 15 tahun. Akan tetapi untuk bisa melayani sewa beli ini, pemerintah harus bisa menyediakan anggaran untuk membeli lebih dulu rusuna itu, baru setelah 5 tahun uang akan kembali melalui KPR. Nah, uang alokasi anggaran inilah yang sekarang ini kita belum punya.
Doain dong, para blogger, agar Tuhan mengetuk hati para pengambil keputusan kita dibidang anggaran ini untuk mencukupi kebutuhan sewa-beli rusuna.
(Jakarta, 11 April 2007)
Itu cara yang bagus, saya doain pak. Tapi perlu sosialiasi dulu. Lewat radio, pamlet dll. Kalau masyarakat sih sepertinya bisa mudah diajak, tapi terkadang para aparatnya yang tidak mendukung, ya lurah, rt rw kadang kurang memberikan info yang benar ke masyarakat.
Yang perlu diingat sebelum membangun, pelajari dulu amdalnya, tata ruang ke depan 2030 misalnya dll, sehingga tidak mubazir nantinya. Kerja ini ga cukup waktu 5 th, jadi rencana kerja seperti ini harus bisa dilanjutkan oleh pejabat berikut yang menggantikan bapak, kalau tidak, ganti mentri ganti kebijakan ya ga habis - habis dong cuma rencana melulu???
Nanti kalau koruptor yang melarikan uang negara ke LN sdh ditangkap, nah uangnyakan bisa buat bangun ini RUSUN.
Semoga tercapai,
Bulan februari 2007 adalah masa yang tidak mengenakkan hati bagi penghuni rusunawa BCI di cengkareng. Dua bulan sebelumnya (desember 2007) dikejutkan dengan kenaikan harga sewa s.d. 80%. Lalu sempat 3 hari kebanjiran di bulan Februari tsb. Seumur-umur baru kali itu kebanjiran di rusun, garagaranya pembangunan Mall Taman Palem yang ditinggikan tanahnya (hanya radius 500 meter dari rusunawa). Ternyata tinggal di rusun bukan solusi untuk menghindari banjir.
Sayangnya program rusuna ini tidak terbuka, sehingga orang2 yang membutuhkannya mengalami kesulitan untuk mendapatkan informasi lengkap kantor marketing rusuna masing2 daerah terutama jakarta.
Kira2 apakah ada yang tahu kantor marketing salah satu pengembang untuk rusuna??
pls infonya terima kasih.