RUSUNA ATAU APARTMENT???
Berbagai komentar bermunculan mengenai penggunaan istilah rusuna. Ada yang usul jangan memakai istilah RUSUNA (rumah susun sederhana), alasannya kurang trendy. Ada yang ingin sebutan APARTEMEN. Soal murah dan mahal bukan alasan membedakannya. Mobil ada yang mahal dan ada yang murah, tapi toh semua disebut mobil, bukannya gerobak. Yang lain mengusulkan pakai saja LOW COST APARTMENT; APARTEMEN MURAH, APARTEMEN RAKYAT, APARTURA (Apartemen Untuk Rakyat), APARTEMEN SEDERHANA !!!
Anda para blogger, bagaimana pendapat anda?
(Jakarta, 11 April 2007).
Pak Menteri,saya setuju kalau namanya jangan rusuna tapi agak bebrbau apartemen/flat/condo atau yg lainnya krn org Indonesia masih ada rasa gengsi apalagi kalau ditanya tinggalnya dimana, secara psikologis nama yg terkesan position nya lebih tinggi akan lebih menarik orang utk tinggal disana.
oh ya saya berminat untuk menjadi pengembang dibisnis ini, Insya Alloh permodalan siap, hanya saya butuh petunjuk teknis dan analisa biaya. Jika tidak keberatan mohon dapat di email ke saya. Terima kasih.
Kalo kate orang jakarte apartemen itu bukan hanya sekedar rumah susun tapi biasanya ada tambahan2 fasilitas spt kolam renang, lobby, cafe, fitness, etc … etc . Nah kalo rusuna ini kayaknya fasilitasnya tidak spt apartemen swasta. Kemaren baru liat brosurnya dari pameran … juga ga jelas tuh dibrosurnya material yang dipake, etc,etc … tapi emang harganya murah nyang 1 br (21 m2) 90 jt , 2 br (ukuran 30m2) 140 jtan, bisa nyicil s/d 20 thn lagi
AWW, Pak Menteri
Terlepas dari apapun istilah yang digunakan, program perumahan yang diusung pemerintah ini seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah, yang berpenghasilan dari 1 hingga 5 juta rupiah per bulannya, yang bermimpi dapat tinggal dihunian yang layak, yang nyaman.
Hendaknya, masalah substansi program ini lebih dikedepankan dan dipayungi dengan peraturan pemerintah, seperti Peraturan Menpera no. 7/2007 (walaupun dalam beberapa hal dalam Peraturan itu masih akan direvisi).
Memang, mendengar istilah RUSUN, tentu yang terbayangkan adalah kondisi rumah yang sempit, tidak nyaman, air sering mati, fasilitas yang tidak layak dan kurangnya sarana pendukung lainnya seperti keamanan, parkir. Dan istilah RUSUNA (rumah susun sederhana) ini, tentunya akan menimbulkan pertanyaan lagi sebagian orang: Lha, RUSUN aja seperti itu kondisinya, gimana yang SEDERHANA?
Kemudian, muncul istilah low cost apartment, istilah yang dipandang dapat merubah asumsi sebagian tentang rencana pemerintah mengembangkan perumahan murah dan layak bagi rakyat. Apartemen selama ini diasumsikan sebagai hunian para orang-orang yang berpenghasilan tinggi dengan berbagai fasilitas dan sarana pendukung yang bisa bikin nyaman para penghuninya. Mulai dari kolam renang, sauna, sport facilities dan keamanan 24 jam.
Lalu, pertanyaannya, bagaimana dengan LOW COST APARTMENT? Ini tentunya masih menjadi pertanyaan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, yang berharap dapat memiliki hunian yang layak dengan fasilitas yang memadai. Tidak perlu seperti kebanyakan apartment di Jakarta yang diperuntukkan bagi kalangan atas (namanya juga low cost).
Kalau melihat di berbagai negara maju, Australia misalnya, sebagian besar masyarakatnya tinggal di apartment, yang memiliki variasi dalam fasilitas. Bagi yang berpenghasilan menengah ke bawah, mereka bisa memilih tinggal di apartemen yang “biasa”. Tapi satu hal yang pasti, kenyamanan penghuni merupakan standar fasilitas setiap apartment, mulai dari security, instalasi air dan listrik, kebersihan.
Sebagai salah seorang PNS yang belum memiliki rumah, tentunya saya sangat berharap, program RUSUNA ini merupakan berkah buat saya, sehingga cita2 untuk memiliki rumah yang “layak” dapat terwujud.
Salam.
Pak Menteri, tolong perbanyak pembangunan apartemen/rusun dengan luas 36 m2 dengan harga sekitar Rp 150 juta-an. Lokasinya yang gampang diakses dengan transportasi. Sebelum 2010 harus sudah bisa terbangun, Pak. Terimakasih.
para netter yth.
apapun namanya nanti, bagi aku tidaklah jadi masalah. yang penting apabila hal ini terwujud hendaknya lokasinya dekat segala fasilitas umum, transport, pasar, sekolah, rumah sakit, mesjid dll sbgnya, tentunya dengan bangunan yang kokoh dan layak untuk di huni,percuma harga murah, tapi dengan kualitas bangunan yang murah.
oh iya, omong2 gimana sih cara untuk mendapatkan apartemen ini nantinya,saya juga berminat. mungkin netter ada yang tahu, kasih tahu ya ke email aku.terimakasih
pak, bagaimana saya bisa mendaftar utk ikutan beli apartemen/rusuna ini? jalurnya lwt mana? soalnya informasi ttg program perumahan utk rakyat sangat kurang gaungnya.
trims.
Pak Menteri yang terhormat,
Saya sangat senang dengan program pemerintah untuk Rusuna / Apartemen Murah.
Masukan saya untuk Pak Menteri yaitu jangan sampai Rusuna ini hanya menjadi milik orang - orang kalangan atas (Berpenghasilan lebih dari 4,5 jt/bln) karena beban uang muka 12.5 % - 15 % yang walaupun bisa dicicil 3 - 4 kali tetap saja kalangan menengah tidak mampu untuk membelinya. Kalau memang untuk kalangan menengah bawah seharusnya sistem uang muka ditiadakan, langsung pembayaran bulanan saja pak. Masalah terbesar kenapa banyak orang tidak mampu beli rumah karena kredit harus menggunakan uang muka. Saya yakin tanpa subsidi bunga dari pemerintahpun banyak yang bisa kredit jika yang disubsidi itu uang muka.
Atas perhatian Pak Menteri saya ucapkan terima kasih.
Kalo menurut saya bukan masalah nama rusuna atau low cost apartment, tetapi masalah tentang keberadaan rusuna atau low cost apartment (atau apapun namanya nanti) yang akan diletakkan di tengah kota. Hunian vertikal ke atas merupakan solusi atas kepadatan penduduk dengan ketersediaan tanah di muka bumi
(bukan hanya tanah perkotaan). jadi, hunian susun tersebut tidak mutlak harus di tengah kota. bukankah idealnya kita bekerja(working) untuk hidup(living) yang berarti tempat kerja yang di dekat rumah? Tetapi mengapa hal yang terjadi sekarang adalah kita hidup untuk bekerja sehingga orang-orang belomba-lomba mencari tempat tinggal di tengah kota?
Apapun namanya rusun atau perumahan biasa kalau diniatkan untuk rakyat harus diperhitungkan kemampuan rakyat untuk kelanjutannya.
Tidak semua yg punya rumah di Jakarta adalah orang kaya, sehingga PBB (pajak bumi dan bangunan) bisa menjadi beban bagi rakyat kebanyakan. Sekarang di wilayah tempat tinggal saya (Jakarta) sudah banyak yg orang non pri, secara materi mereka lebih dibanding pribumi.
Saya prediksi kalau biaya PBB mahal hanya orang kaya yg bisa tinggal di Jakarta dan mungkin Jakarta nantinya akan dihuni mayoritas kalangan nonpri.
Mohon amat sangat pemerintah memperhatikan hal ini dan kalau bisa sudilah kiranya pak Mentri menyampaikan masalah ini pada instansi yg berwenang.
SAya sebagai salah satu pemakai Rumah susun yang ada di kemayoran, di blok dakota.
Saat ini, jumlah peminat rumah susun di jakarta sangat tinggi, hal ini tercermin dari selalu penuhnya tingkat hunian rumah susun, terutama yang ada di kemayoran.
Masalah penamaan, yang saya amati adalah mereka tidak terlalu peduli dengan nama yang ada.
yang diperdulikan adalah (termasuk saya) :
1. Harga beli yang terjangkau (ukuran rumah type 36 meter max 100 juta)
2. biaya perawatan yang terjangkau, max 50 ribu/bulan
3. biaya PAM (bulanan air) disamakan dengan tarif perumahan kelas bawah (jangan disamakan dengan apartemen/rumah mewah, seperti yang terjadi di kemayoran)
4. Penjelasan yang jelas dan detail mengenai status kepemilikan rumah susun, dan setelah habis masa HGB nya, bagaimana kelanjutannya
dan semoga segera terwujud rumah yang murah untuk warga di jakarta, apapun namanya, yang penting, SEGERA DIBANGUN !!!!
Salam dan terima kasih
Akhirnya saya menemukan link yang berhubungan dengan apartemen rakyat. Saya sangat penasaran dengan apartemen rakyat ini, setelah melihat setiap beberapa meter sekali di sepanjang kalimalang jakarta timur, terpampang spanduk tentang apartemen ini… Tapi sepertinya memang kurang sosialisasi… jadi saya juga masih kurang jelas, apa dan untuk siapa apartemen ini dibuat… Mohon sosialisasinya ..
Alhamdulillah, ada yang penasaran, sehingga pengen tahu…
Tanda apartemen rakyat yang ada subsisinya adalah :
1. Harganya tidak lebih dari 144 juta per unit
2. Luas maksimum 36 meter persegi
3. Dijual melalui KPR bank-bank penyalur subsidi a.l. BTN
4. Dapat diangsur sampai 15 tahun.
Apartemen rakyat ini untuk mereka yang berpenghasilan maksimal 4,5 juta/bulan
Pak mentri, mohon pencerahan Bapak untuk 2 pertanyaan berikut:
1. Apa kriteria disebut rusun dan apartemen. Apk dapat disebut apartemen jika ukuran hanya 36m², 38m², 44m², walaupun ada juga yang paling luas 70m².
2. Apakah penghuni di rusun/apartemen menengah tidak mempunyai hak mendapat tempat parkir(minimal 1 unit 1 kendaraan), bukankah seharusnya lahan parkir sebagai benda bersama, tanah bersama dari rusun/apartemen dapat digunakan untuk kepentingan penghuni secara bersama. Bagaimana pendapat Bapak, terima kasih atas perhatiannya.
wassalam,
chandra
Rusunami, kejutan baru buat warga jakarta kelas menengah ke bawah. saya antusias tuk ikutan bisa tinggal nanti di Rusunami Kalibata, karena kantor saya di Jl. Raya Pasar Minggu, tiap hari harus ditempuh lebih dari 2jam ke Duren Sawit, rumah orang tua saya. Tentunya kami berharap adanya fasilitas air bersih, listrik, keamanan dan jangan lupa alangkah lengkapnya bila tersedia gas alam, jadi di Rusunami ini kita gak perlu boyong2 tabung gas ketingkat atas. Kalo namanya lebih tepat disebut Apartemen Kalibata. Apalagi kalo harganya bisa turun lagi. Huebat banget deh negara kita. Semoga tiap lapisan masyarakat kelas bawah Jakarta mulai bisa menikmati hunian yang layak, bermartabat, aman dan nyaman. Karena gini2 kita kan manusia yang punya cita2 untuk anak cucu kita, biar gak kalah sama negeri tetangga.Thanks pak Yusuf
Pak.. saya penasaran dengan apartemen rakyat ini, dan yang saya pertanyakan adalah lokasinya dimana saja yang akan dibangun apartemen rakyat, karena sayapun tidak ingin jauh dari keluarga saya, lalu untuk uang mukanya nominalnya berapa ya Pak, kalo yang berpenghasilan dibawah 4,5 jt/bulan bisa ga pak, persyaratannya apa saja, trus apakah hanya apartemen rakyat saja, klo yang rumah sangat sederhananya ada ga pak dan lokasinya dimana (bukan rusun), bisa tidak saya melihat gambar apartemen rakyat yang akan dibangun nantinya (display-nya), untuk megetahui lebih lanjut mengenai pemesanan dan nominal kredit per bulan,selain bank penyalur KPR contact-nya kemana pak…
sebelumnya terima kasih banyak ya pak..
Assalamu’alaikum apk menteri,
waduh bingung juga nih, mau banget tinggal di tengah kota, tapi persyaratan gaji bulanan itu yang bikin bingung. gaji suami di atas rp4,5jt, mau beli apartemen bersubsidi mungkin gak berhak, tapi kalo beli apartemen yang nonsubsidi gak mampu, terutama untuk DPnya. gimana nih pak? makasih ya.