Yusuf Asy’ari

social justice for all

April 22nd, 2007

Menpera dan Kebijakan Pro-poor

Para blogger, sejak awal karir profesional saya hingga kini sebagai menpera, saya nggak pernah punya pretensi untuk memuaskan semua orang. Karena apa? karena memang nggak akan pernah mungkin memuaskan semua orang dengan berbagai variasi keinginan. Ini tentu saja bukan excuse dari sebuah keharusan melaksanakan kerja secara serius, bahkan menanggapinya bak sebuah ideologi. Kalau mau joke juga ada? Saya pernah mendengar sebuah cerita mengenai seorang profesor di Universitas Indonesia. Dalam penutupnya dalam sebuah kuliah umum, dia bertanya kepada seluruh mahasiswa yang hadir, “apakah masih ada yang belum puas?” para mahasiswa yang sudah berkemas untuk segera bubaran hanya diam saja. Lalu si profesor bilang ” ya sudah. Kalau masih ada yang belum puas nggak apa-apa, karena saya memang bukan alat pemuas”

Penting saya expose kebijakan anggaran dalam APBN yang rasanya tidak mungkin memuaskan keinginan rakyat. Keberadaan kantor Menegpera yang boleh dibilang secara politis adalah bagian dari target kebijakan pro-poor dari kabinet Indonesia bersatu, menghadapi tantangan yang amat tidak ringan. Lho abong-abong (bahasa betawinya mentang-mentang) pro -poor lalu pengalokasian anggarannya juga termasuk yang terkecil dibandingkan departemen atau kementerian yang lain.

Untuk rencana awal APBN 2008, meskipun pemerintah menaikkan pagu indikatif belanja kementerian dan lembaga dengan 11,24% hingga mencapai 286, 9 trilyun dari target tahun ini 258 trilyun, Kantor Menpera anggarannya hanya 800 milyar, bandingkan dengan PU yang mencapai 34,3 trilyun, Departemen kesehatan mencapai 18,8 trilyun, Depdiknas 48,1 trilyun, Departemen Agama sebesar 16,1 trilyun. suatu perbandingan yang mencolok dan cenderung timpang mengingat misi Menegpera. Lalu dimana pro-poornya dalam hal penyediaan papan. Mau nggak mau Menpera harus bekerja keras menarik minat swasta membangun rumah. Demikian kata Ebiet G Ade “untuk kita renungkan”

April 18th, 2007

Diskusi Dengan Penghuni Rumah Susun

DISKUSI DENGAN APERSSI

Mungkin para blogger belum tahu bahwa ada organisasi para penghuni rumah susun dengan nama APERSSI singkatan dari Asosiasi PEnghuni Rumah Susun Seluruh Indonesia. Senin 16 April 2007 kemarin, dikantor Menteri Negara Perumahan Rakyat saya ketamuan Pengurus Pusat APERSSI, yang terdiri dari Ketua Umum Bapak Ibnu Tadji HN; Sekretaris Jenderal Bapak Aguswandi Tanjung; Ketua Bidang Operasional & Humas Ibu Ir.Diana C.Pondaaga MM.; dan Ketua Bidang Kelembagaan Bapak Hariadi Darmawan.
Hampir dua jam kami berdiskusi mengenai hunian rumah susun beserta segala problematikanya, termasuk masalah peraturan-peraturan yang sudah out of date atau setidak-tidaknya perlu revisi. Juga persoalan PPRS (Persatuan Penghuni Rumah Susun) agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kepada beliau-beliau saya sarankan agar APERSSI disebar luaskan keseluruh Indonesia, sehingga rencana pembangunan rusuna di sepuluh kawasan perkotaan dapat disambut dengan lebih hangat lagi oleh para stakeholdernya.
Para blogger yang kebetulan tinggal dirumah susun diseluruh Indonesia dan ingin mendirikan perwakilan APERSSI didaerah-daerah dapat menghubungi kantor APERSSI dengan alamat:
Apartemen Mangga Dua Court, West Tower 1503,
Jl.Mangga Dua Dalam,
Jakarta Pusat-10730,
Telepon 021-6129013, Fax. 021-6128659.
(Jakarta, 16 April 2007).

April 18th, 2007

Wisata Kuliner di Solo

WISATA KULINER DI SOLO

Solo memang pantas dijuluki kota yang tak pernah tidur. Bayangkan, jam 02.00 malam (pagi?) masih ada gudeg ceker yang baru buka. Di Keprabon, kita bisa mendapatkan nasi liwet. Menu lain di Solo adalah tengkleng, bagi yang suka kambing. Gudeg, sate, bakmi dan tongseng tentu sudah biasa. Kali ini yang ingin saya kemukakan adalah bebek goreng. Sekarang ini menu bebek goreng ada diseantero kota Solo. Salah satu yang terkenal adalah bebek gorengnya pak Slamet yang berpusat di Kartasura. Saya katakan berpusat, sebab di kota Solo kalau tidak salah di Jalan Bayangkara anaknya juga buka warung bebek goreng. Uniknya, kalau si ayah di Kartasura buka dari pagi sampai jam 13.00 (siang), sang anak buka dari siang sampai malam. Alangkah malangnya jadi bebek di Solo. Sayang wisata kuliner yang tidak mahal di Solo ini tidak disertai pertunjukan budaya yang memadai. Wayang Orang di Sriwedari sudah sedemikian mundur, begitu juga Sri Mulat yang pernah bermarkas di Solo. Barangkali wisata budaya di Solo akan semarak lagi kalau kota Solo-Baru sudah selesai dibangun.
Nah, anda yang sering ke Solo, selamat menikmati bebek goreng!

April 18th, 2007

MOU bukan Memorandum of Uncertainty

MOU DENGAN PERBAMIDA

Kamis tanggal 12 April 2007, diruang Prambanan Kantor Kementerian Negara Perumahan Rakyat telah dilakukan MOU, Memorandum of Understanding, (bukannya Memorandum of Uncertainty) antara Menteri Negara Perumahan Rakyat dengan Bapak Soehardjo, SE, MM, Ketua Umum PERBAMIDA (Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Milik Pemerintah Daerah) se Indonesia.
Tujuan MOU ini adalah pelaksanaan program penerbitan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), Kredit Pembangunan/Perbaikan Rumah Swadaya (KPRS) Mikro Bersubsidi melalui Bank Perkreditan Rakyat milik Pemda diseluruh Indonesia. Saat ini, setelah konsolidasi, konon PERBAMIDA mempunyai anggota sebanyak sekitar 400 BPR. Kegiatan MOU ini akan diikuti dengan Seminar dan Rakernas III PERBAMIDA pada tanggal 19 April 2007 di Sanur, Bali. Akan menjadi pembicara dalam seminar tersebut Dr.Iskandar Saleh, Deputi Pembiayaan Kemenpera dan Dr.Haryono Suyono dari Yayasan Dana Mandiri.

April 16th, 2007

FAKTA DAN DATA SEPUTAR PERUMAHAN RAKYAT (1)

1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2004 - 2009
Untuk Perumahan Rakyat ditargetkan :
a. Pembangunan rumah baru layak huni sebanyak 1.350.000 unit
b. Pengadaan Rusunawa sebanyak 60.000 unit
c. Pengadaan rusunami dengan peran swasta sebanyak 25.000 unit
d. Akses kredit mikro perumahan 3.600.000 unit
Catatan :
dalam 10 tahun terakhir angka historis realisasi per tahun belum pernah mencapai 50% dari
rata-rata per tahun target RPJM

2. Produksi rumah secara nasional.
Kementerian Negara Perumahan Rakyat bertugas utamanya membuat regulasi ditambah
fungsi operasional yang bersifat stimulan serta rusunawa khusus untuk perguruan tinggi.
Tercatat kurang lebih :
2005 : KPR 63.712 unit bersubsidi dan 16.186 unit tidak bersubsidi. Rusunawa 27
twin block sebanyak 2.422 satuan rumah susun serta rumah bencana di Aceh 13.000 unit

2006 : KPR 78.194 unit bersubsidi dan 8. 426 unit tidak bersubsidi. Rusunawa 20 twin
block sebanyak 1.506 satuan rumah susun. Rumah bencana di Aceh 44.000 unit, di
Yogyakarta 100.888 unit dan Jawa Tengah 96.303 unit. Rumah sosial di Nusa Tenggara
Timur 5.000 unit, Transmigrasi sekitar 12.000 unit dan rumah swadaya sekitar 1.500 unit

3. Subsidi yang diberikan
Tahun 2005 terbagi Rp. 109.880.345.068,-
Tahun 2006 Rp. 251.996.426.346,- plus Rp. 75.000.000.000 yang menjadi beban anggaran
2007 (carry over)
Tahun 2007 rencana anggaran subsidi Rp. 300.000.000.000,-

(Ir. Memed Sosiawan)

April 15th, 2007

Ideologi Saya Perumahan Untuk Rakyat

Pada suatu kesempatan berdiskusi secara terbuka dengan media terkadang dari hati ke hati, pak Menteri kerap menyampaikan bahwa ideologinya sekarang adalah penyediaan papan untuk masyarakat menengah ke bawah. Sederhananya sebenarnya buat pak Menteri, siapa saja welcome untuk menjadi investor/developer di bidang perumahan untuk golongan tersebut. Dia memberikan empatinya kepada para komuter yang hidup di pinggiran Jakarta, waktunya habis di jalan karena jarak tempuh dan kemacetan yang dihadapinya. Sehingga kualitas komunikasi diantara sesama anggota keluarga bisa merosot.

Untuk mengkongkritkan programnya bahkan tidak segang-segang pak Menteri meminta kepada kepala daerah untuk bersinergi dalam mempermudah dan mempermurah perijinan. Saat peresmian pemancangan tiang pertama pembangunan 1000 tower rusuna di Pulogebang, Jakarta Timur, pak Menteri sempat memohon kepada Gubernur Provinsi DKI Jakarta supaya jalur busway ditambah hingga 2 km sehingga penghuni tower rusuna yang tengah dibangun itu dapat juga memanfaatkan fasilitas busway.