Selasa kemarin (28 November) saya ke Yogyakarta bersama istri, meresmikan perbaikan dan pembangunan kembali 510 rumah korban gempa yang dibiayai oleh Royal Numico N.V. dan PT Sari Husada, itu lho produsen susu. Ada CEO Royal Numico N.V., Jan Bennink, dan PresDir Sari Husada, Budi Satria Isman. Saya sempat berkunjung ke rumah-rumah baru itu di Desa Kemudho, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.
Memang rumah-rumah itu diperuntukkan bagi para karyawan Sari Husada sendiri, tapi pemerintah juga ikut berterimakasih atas inisiatif itu dan malahan saya ingin agar perusahaan-perusahaan lain juga meniru langkah itu. Dengan begitu, para karyawan mereka bisa lebih produktif dan secara keseluruhan memberi manfaat lebih besar.
Malam harinya, saya diajak ke Desa Code “mengunjungi” Mbah Mo. Itu penjual bakmi rebus. Warungnya sederhana, duduk juga di lincak. Tapi paling sedikit ada empat mobil sudah antri waktu saya datang. Dan bakminya…enaaak! Sebenarnya lidah saya masih ingin tambah, tapi saya tidak berani. Soalnya sudah malam. Bahaya, untuk perut!
Mudah-mudahan harapan Bapak agar perusahaan2 lain juga meniru langkah pabrik SGM itu terdengar dan diamini oleh para pengusaha2 lain. Tidak hanya buat karyawannya saja namun juga buat masyarakat luas. Amin.
btw, bakmi Mbah Mo emang enak, paling nggak bisa sebagai pengganti Bakmi Mundiyo yang udah lama tutup dan sebagai variasi bakminya Polo di alun-alun atau bakmi Kadin Bintaran.
Nah, betul tuh. Kalo semua dibebankan pemerintah, bisa berat banget.. Jadi perusahaan kalo bisa membangunkan rumah atau minimal kos-kosanlah untuk karyawannya, terutama yang terkena bencana seperti itu
Wah, kalau bakmi, dah pernah mencoba bakmi pak Rebo juga belum pak? Itu juga enak lho Pak… Hehehe…
Assalamu’alaikum wr.wb..wah salut pak menteri ngeblog juga. bicara tentang mbah mo, memang seorang pelaku ekonomi yang luar biasa. seharusnya bangsa ini berpihak pada pelaku ekonomi yg betul2 berjuang untuk rakyat. bisa lihat dalam postingan saya tentang mbah mo. trimakasih pak menteri
Assalau’alaikum Wr Wb
Sayaq salaut pak atas usaha bapak mensejahterakan rakyat lewat penbangunan rumah rakyat, semoga dalam menjalankan tugas bapak senantiasa diberi kekuatan dan kesaehatan agar semua program-program Bapak dapat terlaksana dengan baik.
wassalamu’alaikum wr Wb
Untuk: Hastu, O Zoners, Thomas dan Arifaji:
Terima kasih untuk komentar2 anda, Saya setuju dengan pendapat Arifaji tentang keberpihakan kita pada usaha2 kecil yang sehat. Hidup bakmi Mbah Mo, Bakmi Kadin dll. Apakah bakmi pak Rebo sama enaknya (dan juga halal 100%)?
Maaf juga atas kelambatan saya membalas sampai dua bulan. Yaah, maklumlah rasanya kalau bisa sehari itu lebih dari 24 jam.
Untuk: Masindi, Luigi, faisal, Bunyamin Najmi, helmy dan franova:
Meskipun sangat, sangaaaat terlambat, saya ucapkan terima kasih atas doa dan komentar temen2 blogger, malah ada yang dari Afsel segala. Saya kira teman2 benar bahwa ibadah itu kalau datang waktunya kemudian tidak kita gunakan, sering-sering waktu itu tidak berulang lagi. Nah karena itu saya manfaatkan; karena kebetulan sehat, alhamdulillah uang ticket ada (awas, ini bukan dari DAU lho!)dan izin pun diberikan oleh Presiden dan Wakil Presiden. Sekali lagi, terima kasih, salam jumpa lagi
lha pak …
ke mbah mo kok ndak ajak-ajak saya. … ;))
Salam buat teman - teman Rini Kustanti, Trian Muntafiah, Anis Farida, semua alumni SMP N 1 Ceper Klaten th 1991. tak tunggu kabarmu. saiki kowe podho nyang ngendi, Alumni STM Kristen 1 Klaten th 1994
mbah mo - mbah mo semangatmu golek duwit pancen hebat mungkin kanggo tinggalane anak lan putu, yo yen usahane njenengan sukses terus, mbok bilih kulo di ajari resep caranipun damel bakmi lha jamane saniki kan kathah bakmi ingkang dicampuri bahan pengawet contonipun FORMALIN / BORAK. lha nikukan mateni generasi selanjute. kulo nggih pingin usaha mandiri mboten terus dadi kuli yen bayaran mung setali. dinggo damel griyo mawon mboten dadi-dadi,
Aprosesiasi dan salut untuk pak menteri yang ‘gaul’ dan punya blog yang bukan sekedar postingan saja. Era TI seperti sekarang seharusnya bisa meruntuhkan
“tembok2″ birokrasi, sehingga jangan lagi para pejabat malas berkomunikasi langsung dengan rakyatnya. Harusnya menteri lain mengikuti jejak langkah bapak.
Pak,
Mau usul mengenai rusunawa, khan sekarang lagi rame mengenai CSR. Nah,itu BUMN2 yang gede2 biasanya punya tanah dimana2,mbok ya dibuat caranya agar bisa didevelop jadi rusunawa. Khan bagus sekali tu. Coba bapak jalan2 ke kota tua jakarta, seperti ada beberapa lahan punyanya BUMN, kalo mau kan bisa didevelop jadi rusunawa. Jadi pekerja2 di kawasan kota gak perlu jalan jauh ke pinggiran untuk sekedar numpang tidur dan paginya balik lagi ke Jakarta. Harapannya,tingkat produktifitas semakin tinggi.Thanks pak.
asal saya dari desa Paremono, tetangga desa Pak Menteri di Pabelan. Sekarang hidup di perantaun Jakarta. Waktu kecil saya suka main ke desa Bapak mendengarkan pengajian akbar Mbah Mad Abdul Haq, Watucongol. Nuwun.