Dari beberapa teman blogger, terbaca bahwa ada yang termasuk kategori ”pakar” perumahan dan ingin kontribusi pemikiran. Saya kira salah sekali kalau saya menolak uluran tangan semacam ini. Silakan, welcome. Saya senang bila ada teman2 blogger yang peduli pada permasalahan perumahan rakyat. Saya juga ucapkan terima kasih pada teman yang mengutipkan tulisan-tulisan tentang perumahan.
Hanya memang saya perlu minta pengertian teman2 juga bila ada komentar atau pendapat tidak segera saya respons. Barangkali saya sedang sibuk, keluar kota ataupun kadang-kadang macet ditengah proses meski ingin segera membalasnya. Maklum saya pendatang baru yang barangkali ada ”gatek” nya (gagap teknologi), belum terlalu familiar dengan a-z nya dunia blogging.
Terimakasih.
Pak Yusuf,
Saya kira aspek komunikasi dan public relations ke masyarakat mengenai fungsi dan tugas kementrian ini harus direvitalisasi lagi. Saya pernah membuat semacam iklan layanan masyarakat mengenai habitat ( lingkungan kumuh dsb ) pada periode pak Joko kirmanto, hanya saja sosialisasi penayangannya di media TV juga sedikit ( atau tidak ada ), jadi efek promosinya tidak terasa.
Lalu dengan pekerja pekerja lepas ( tidak ada perusahaan ), seperti pekerja film yang selama ini sangat sulit mencari kredit perumahan karena bukan pekerja tetap. Padahal dari segi penghasilan, mereka mendapat jauh lebih dari pekerja kantoran misalnya. Apakah mungkin departemen ini menjadi fasilitator dengan pihak perbankan ?
Alhamdulillah, tuh temen2 pintu udah dibuka tuh, ayooo yang mau urun rembug silahkan aja.
Kalo dari saya sih, kalo bisa dibangun banyak rumah susun murah pak. Kan rumah susun itu cuma butuh sedikit tanah, sehingga praktis hanya biaya bangunan aja. Rusun ini perlu sekali pak terutama di kota-kota besar kayak Surabaya.
Pak Mentri yang baik,
Saya agak heran dengan kebijakan Bapak soal pembangunan 1000 blok rumah susun berlantai 20 di sepuluh kota metropolitan berpenduduk di atas 2 juta jiwa (berita di KOMPAS beberapa waktu yang lalu). Sewaktu saya tanyake beberapa teman di Bappenas, Dep PU dan ITB, ternyata kota yang berpenduduk di atas 2 juta hanya ada lima saja, yaitu: Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Malang. Namun nampaknya tidak semua kota tersebut tidak membutuhkan bangunan setinggi 20 lantai karena faktor kebutuhan yang belum mendesak dan faktor biaya yang tidak terjangkau kelompok penghasilan menengah ke bawah. Misalnya untuk Kota Bandung dan Malang, mungkin yang lebih sesuai adalah bangunan yang biaya pembangunan dan pemeliharaannya murah, dan itu adalah bangunan lima lantai ke bawah, karena bisa dijangkau dengan tangga, tidak perlu lift, sistem utilitas yang berteknologi tinggi dll.
Kalau dihitung, biaya membangun gedung setinggi 20 lantai membutuhkan biaya paling tidak Rp 5 juta/m2, belum termasuk harga tanah dan infrastruktur. Sehingga harga per unit dengan luas 21 m2 bisa sekitar Rp 120-150 juta. Untuk masyarakat kota Bandung dan Malang, misalnya, harga tersebut mungkin hanya terjangkau oleh kurang dari 5% penduduknya, karena cicilan per bulannya bisa mencapai Rp 5 juta/bulan. Sehingga bila dimaksudkan sebagai solusi, mungkin bukan untuk saat ini, dimana kemampuan cicilan rata-rata penduduk kita masih sekitar Rp 1.100.000,- per bulan (2004, diluar Jakarta).
pak mentri yang baik,
saya setuju sekali, dengan adanya rencana pembangunan rusun2 yg murmer, tapi kadang MURMER itu identik dengan kumuh (nantinya) juga lingkungan yg bronx….
saya harap, kondisi lingkungan sekitar nya juga tetap terjaga, aman dan tetap nyaman untuk dilewati, ditinggali, dilihat
saya hanya org awam yg melihat dari kaca mata awam juga….
selamat buat pak mentri yg sudah membuka tempat utk urun rembug
salam sejahtera
NILA
Pak.
Kenapa di wilayah Menpera banyak sekali aspek yang tidak jelas, bahkan terkesan diputer2 sehingga orang orang bingung dan jadi males, sehingga ke-tidak jelasan di menpera bisa dengan lenggangnya berjalan.
yang ke dua pak.
terlalu banyak overlapiing kerjaan.
cuma judul yg beda tapi realitanya sama, apakah itu tidak buang2 anggaran?
trus juga banyak pegawai / staff deputy bahkan.. yag jam 11 baru dateng, terus ngopi.
jam 2 an siang baru bilang, ah aku belum ngapa2in nih. mau ngerjakan sesuatu dulu.
tidak lama kemudian dia keluar dan bilang, ngopi dulu donk.. ngantuk nih
jam 3 dia ambil tas dan pulang.
apa tidak kurang ajar? dan banyak pula yg seperti itu….
apa saya harusnya laporkan ke KPK ajah?
tolong diperhatikan donk pak yg begituan…
apalagi di Deputy Formal
Asdep dan Kabag nya pada ngawur….
apalagi staff dibawahnya…
Assalammu’alaikum
afwan ustad cuma ingin tanya kenapa rumah di aceh masih banyak sekali yang belum berdiri? butuh berapa romadhon lagi sampai saudara-saudara kita disana bisa tinggal dengan layak?
Ass wr wb,
Mr Minister,
Pertama saya gembira pak menteri mau berbagi lewat blog, hitung-hitung media komunikasi yang memadai untuk menampung aspirasi, asal rajin up date, ngga seperti kebanyakan go.id di dati II yang latah dan banyak anggaran. Saya mau sedikit urun rembug nih, terutama dari aspek pelaksanaan program pemerintah. Tolong dong yang paling pertama dihindari adalah budaya mark-up, itu tuh misalnya harga beli semen 1 sak 50.000 ditulis 60.000 dalam spj, belum lagi permainan lelang dan owner estimate. Kalo diawali dengan kejujuran, niscaya deh pemabngunan perumahan rakyat bakal maslahat … tapi apa bisa ya …
cakmoki
YTh. Bp. Menteri Perumahan Rakyat
Assalamualaikum,
Saya pelajar Indonesia di Jepang. Merasa prihatin dengan peristiwa lumpur Lapindo. Selain terus berikhtiar terbaik mengatasinya, mungkin ada hikmah yang tersembunyi dari Allah swt.
Saya pernah membaca artikel ttg mud concrete sebagai bahan bangunan alternatif di India dan USA.
Tapi mohon maaf saya tidak tahu persis apakah lumpur Lapindo dapat dimanfaatkan secara teknik dan ekonomis untuk keperluan bahan bangunan. Seandainya memungkinkan, sebagai awam, saya berpikir mudah2an dapat menunjang program pengadaan rumah bagi rakyat.
Wassalam,
Iman
Ass. Wr. Wb. Bpk Menteri Negara Perumahan Rakyat RI,
Kami dari Asosiasi Pekerja Konstruksi Probolinggo ingin menyumbangkan sedikit ilmu kepada pihak Bapak dan rekan-2 yang peduli dengan bidang konstruksi terutama dibidang perumahan. Untuk sekedar informasi kepada Bapak Menteri, kami dari APSIPRO telah mendapat undangan dari pihak Kementerian Perumahan Rakyat ditandatangani oleh Bpk. Hazadin TS. selaku Kepala Pusat Pengembangan Perumahan pada tanggal 17 Januari 2007 jam 10.00~12.00 WIB bertempat di balai Prambanan-Jakarta untuk memberikan presentasi “Rumah Cor”.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak Kementerian yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengenalkan “Rumah Cor”, Alhamdulillah pihak Kementerian sangat tertarik dengan teknologi ini dan katanya masih digodok.
Salah satu Keunggulan dan Keuntungan “Rumah Cor” antara lain :
1. Menghemat Biaya operasional hingga 20% daripada Batu bata
2. Kuat, Kokoh dan Tahan Lama
3. Ramah lingkungan karena mengurangi pemakaian kayu akibat untuk pembakaran batu bata sehingga mengurangi bencana alam akibat penebangan hutan.
Kami ingin menyumbangkan teknologi ini kepada Bapak Menteri untuk kemaslahatan/ keuntungan umat terutama Masyarakat Indonesia, karena salah satu point penting dari kelebihan “Rumah Cor” ini adalah kita bisa menjaga kelestarian hutan dan bisa mengurangi bencana akibat penebangan hutan.
Kami menunggu informasi selanjutnya dari Kementerian Perumahan Rakyat Indonesia serta pihak terkait yang berhubungan dengan konstruksi perumahan dan semoga dengan teknologi ini membawa dampak yang lebih baik untuk kepentingan kita semua..AMin
Terima Kasih dan Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Hormat Kami,
Rofi Rahadian
Public Relation Asosiasi Pekerja Konstruksi Probolinggo
HP : 0852 3622 4967
E-mail : apsipro@yahoo.co.id
Untuk:IMAN BROTOSENO: Bapak betul, memang banyak yang harus direvitalisasi, termasuk pr. Tapi yaitu, anggaran Kemenpera sangat terbatas, sementara sekarang segala sesuatu butuh duit. Meskipun demikian, bila Bapak punya ide yang murah-meriah, saya akan dengan senang hati mendengarkannya. Soal pekerja non-formal, saya juga sependapat dengan Ba[pak bahwa mereka tidak selalu lebih kecil penghasilannya dibanding PNS.Menurut pak Kodradi Direktur Utama BTN, jalan keluarnya adalah dengan menabung dulu, tunjukkan omzet bulanannya, nanti dari situ BTN bisa memperkirakan kemampuan ekonomisnya dan bisa diberi kredit pemilikan rumah (KPR). Nah selamat menabung!
Untuk O.ZONERS, Kami memang sedang mendorong dibangunnya Rusuna (rumah susun sederhana). Rusuna itu terutama untuk daerah perkotaan yang tanahnya semakin langka dana mahal. Terima kasih atas dukungannya.
Untuk Bung DODO YULIMAN: Rusuna dibangun dalam rangka efisiensi kota sesuai dengan RTRW. Apalagi harga tanah semakin mahal dan langka. Juga rusuna dapat dipakai sebagai alternatif rumah yang tidak kena banjir. Memang rusuna tidak harus 20 lantai,itu masih sangat tergantung pada situasi dan kondisi setempat. Bisa 16 lantai, 12 lantai atau 24 lantai. Mengingat harga yang mahal, maka pemerintah mencoba memberikan keringanan baik dari sisi pasokan maupun permintaan, termasuk didalamnya pembebasan PPN dan pemberian subsidi selisih bunga. Harga pun menurut usulan kami akan berkisar dari 90 juta s/d 145 juta; itu untuk rusunami. Untuk mereka yang berpenghasilan sejuta kebawah, rasanya yang paling tepat adalah rusunawa. Tetapi untuk ini kan butuh APBN dimana saat ini sangat sulit mendapatkannya. Juga kawasan kota dengan penduduk lebih dari 1,5 juta itu prioritasnya, dengan pilot project di Jabodetabek.Hal ini diilhami bahwa tak ada kota2 besar didunia ini yang mengembangkan rumah landed.Tapi saya senang anda beri komentar, setidak-tidaknya akan jadi peringatan bagi kita semua. Terima kasih.
Untuk NILA: Terima kasih atas dukungannya bagi rusuna.
Untuk: REH: terima kasih untuk kritik anda, semoga mereka lebih baik lagi dimasa datang.
Untuk HAFEZ: Rumah di Aceh sepenuhnya ada dalam koordinasiBRR untuk Aceh dibawah Pak Kuntoro Mangkusubroto, bukan ditangan Kemenpera. Sepengetahuan saya, pembangunan rumah akan selesai semua ditahun 2008.
Untuk CAK MOKI: saya setuju dengana anda, semoga bisa.
Untuk IMAN HARYANTO: semoga lumpur lapindo dapat bermanfaat; saya dengan Bapak Gubernur Jatim pernah memerintahkan untuk membuat bata dari lumpur tersebut.
Untuk APSIPRO: Terima kasih atas sumbang sarannya. semoga kedepan dapat dijalin kerjasama yang saling menguntungkan.
Ass.
Syukuyrlah sya buka internet trnyat pak Yusuf Asy’ari ada situs untuk menunjang peningkatan sekaligus membuka kesempatan dalam urung rembuk memberikan kontribusi bagi peningkatan jumlah masyarakat yang memiliki pendapatan kecil untuk mendapatkan rumah yang sederhana tapi layayak dan sehat.
begini pak, di Manado bisa tidak untuk pengembangan Rumah Susun bagi PEDAGANG KECIL/MSYARAKAT untuk mendapatkan akses Rumah Susun, ada lokasi yang juga milik para pedagang yang kalau memungkinkan kami akan rencanakan PLAZA KAKI LIMA menyatu dengan Rumah Susun, karena sdekarang lagi musim penggusuran PKL dari pusat BISNIS/KOTA mANADO. BISA PAK?
lLembaga Pemberdayaan Masyarakat Miskin (LPM2) Sulut