[ English version ] Jumlah daerah kumuh perkotaan Indonesia naik dengan cepat, dari 47.500 hektar di tahun 2004 menjadi 54.000 hektar di tahun 2006, demikian Menteri Negara Perumahan Rakyat Mohammad Yusuf Asy’ari. Kondisi memprihatinkan ini terjadi berbarengan dengan tumbuhnya jumlah penduduk perkotaan secara signifikan, dari 32,8 juta jiwa atau 22,3 persen dari seluruh jumlah penduduk di tahun 1980, menjadi 55,4 juta jiwa atau 30,9 persen dari seluruh jumlah penduduk di tahun 1990. Mengutip data Population Research Center, Yusuf menggambarkan bahwa jumlah penduduk perkotaan atau urban dwellers akan mencapai jumlah 74 juta jiwa atau 37 persen dari total penduduk di tahun 2015.
“Kondisi ini (menimbulkan) tekanan yang sangat kuat terhadap kualitas lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana perkotaan, penyediaan lapangan kerja dan kemampuan pemerintah mengatasi permasalahan lintas sektoral dan lintas wilayah administratif,” demikian Yusuf dalam sambutannya saat membuka Kawasan Siap Bangun (Kasiba) di Alalak Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan pagi ini.
Permasalahan menjadi lebih komplek mengingat cepatnya perubahan lahan produktif menjadi berbagai keperluan non-agrikultur seperti industri, permukiman, prasarana umum dan sebagainya. Dalam 10 tahun terakhir ini di Pulau Jawa saja sudah terjadi konversi lahan pertanian produktif antara 40.000 sampai 100.000 hektar per tahun. Secara keseluruhan, alih fungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya seperti pertanian, perumahan dan sebagainya mencapai 50.000 hektar per tahun.
“Kecenderungan tersebut, suka atau tidak suka, sangat mempengaruhi kebijakan nasional bidang perumahan dan permukiman. Agar pembangunan perumahan dapat menyentuh hajat hidup rakyat dan mampu memecahkan masalah secara mendasar, bukan sekedar simptomatik, maka kondisi lingkungan strategis tersebut harus disikapi dan dijadikan pertimbangan dalam membangun perumahan dan permukiman secara keseluruhan,” demikian Yusuf.
Daerah kumuh, perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pegawai negeri sipil dan anggota TNI dan Polri adalah beberapa saja dari fokus penting program kantor Menpera. Berbagai upaya memberikan perumahan layak bagi kelompok-kelompok masyarakat ini, yang menjadi amanah bagi pemerintah, masih kerap terhambat karena berbagai kesulitan. Termasuk di dalam kesulitan ini adalah keterbatasan anggaran, baik APBN maupun APBD, masih kurangnya subsidi maupun tingginya biaya tambahan yang disebabkan pengurusan berbagai perijinan. Dukungan lain seperti PLN, di beberapa tempat juga masih dirasakan belum memadai sehingga ada sejumlah kawasan perumahan yang siap dihuni namun tidak diminati karena ketiadaan listrik.
“Ini menjadi amanah bagi kita semua, karena kalau untuk orang kaya, biar diserahkan kepada pasar. Sedangkan masyarakat berpenghasilan rendah, kadang-kadang untuk mengumpulkan uang muka saja tidak mampu,” demikian Yusuf dalam pertemuan siang harinya dengan berbagai di pihak di rumah dinas Gubernur Kalimantan Selatan.
Hingga akhir Mei 2006, tercatat sekitar 86 lokasi Kasiba yang sudah ditetapkan di berbagai kabupaten di Indonesia. Khusus di Alalak Utara, Banjarmasin, ditetapkan tahun ini sebanyak 52 hektar dan direncanakan akan dibangun 3.100 rumah di atasnya. Sampai hari ini sudah dibangun 900 unit rumah, yang dikembangkan oleh pengembang anggota REI.
Kantor Menpera memberikan bantuan stimulan fisik misalnya berupa ruas jalan primer di tujuh lokasi Kasiba pada tahun 2006 ini yakni Kota Bontang, Kota Pare-pare, Banjarmasin, Palembang, Bone Bolango, Kab. Buton dan Kab. Ogan Komering Ilir.
“Inilah wujud komitmen pemerintah, dalam hal ini Kantor Menpera, untuk bersama dengan daerah membangun wilayah Nusantara ini,” demikian Yusuf.
Total slums area in cities in Indonesia has increased significantly, from 47,500 acres in 2004 up to 54,000 acres in 2006, stated Minister of People’s Housing Mohammad Yusuf Asy’ari. This sad situation happened along the explosive growth of city dwellers, from 32.8 million people or 22.3 percent of total population in 1980, into 55.4 million people or 30.9 percent of total population in 1990. Quoting Population Research Center’s data, Yusuf explained that total population of city dwellers will reach 74 million people or 37 percent of total population in 2015.
“This situation put very heavy pressure on environment quality, city infrastructure, job availability, housing, public facilities, and government’s ability to handle cross border problems:, said Yusuf in his opening speech when opening Ready To Build area (Kasiba - Kawasan Siap Bangun) in North Alalak, Banjarmasin, South Borneo this morning.
The problem become more complex if we take into account of the conversion rate of productive areas into non-agriculture areas; such as industry, housing, public facilities, and others. In the last 10 years, in Java island alone, there have been conversions of productive soil for other purposes reaching 40,000 up to 100,000 acres per year. As a whole, conversion of reservation area into production area such as for farming, housing, and so on reached 50,000 acres per year.
“This tendency, whether we like it or not, very heavily influenced national policies on housing. To ensure that housing development will fulfill people’s needs and solve fundamental problems, not just symptomatically, then this strategic situation must be taken care of and made as the consideration in building the housing solutions as a whole”, said Yusuf.
Slum areas, housing for low-income families, civil servants, and military & Police force are just a few important issues that Housing Department’s is focusing on. A lot of efforts on providing suitable housing for this groups, which is the responsibility of the government, still not going smoothly due to problems. Including are budget limitations, whether its local or central, lack of subsidy or high additional cost in relation to various bureaucracies. Other support, such as electricity, in a few places are also felt as inadequate; causing a few ready-to-use residential areas to be avoided by people.
“These are all our responsibility, for the rich, let the market sort it out. But for the low-income group, sometimes they are unable just to pay the down payment”, said Yusuf in the afternoon meeting with other parties in the South Borneo Governor’s house.
Up to May 2006, there are 86 Kasiba locations set on various places in Indonesia. For North Alalak, Banjarmasin, 52 acres has been allocated for Kasiba and it’s planned to build 3,100 houses on it. Until today there have been 900 houses finished, which were build by member of REI (Indonesian Real Estate association).
Housing Department gave support in form of physical stimulant - such as primary roads; on 7 Kasiba locations in this year; located in Bontang city, Pare-pare city, Banjarmasin, Palembang, Bone Bolango, Buton, and Ogan Komering Ilir.
“These are part of the realization of government’s promises, in this case Housing Department’s, for us together to build this part of the country”, said Yusuf.
Buat Pak Menteri Yusuf Ansy’ari, selamat datang di Blogosfer Indonesia! Blog akan mendekatkan jarak antara pemimpin dengan yang dipimpin… antara menteri dengan rakyatnya.
Sekali lagi, selamat.
–
Terimakasih untuk ucapan selamat datang ini. Memang salah satu tujuan blog ini adalah untuk menampung masukan-masukan apa saja, kritik pun silakan, dari siapa saja.
Sekali lagi terimakasih.
wassalam
yusuf
Ditunggu kebijakan rumah murah, seperti era orde baru pak.
Subsidinya terutama dan cicilan yang flat.
Biar kami yang masih ngontrak ini, punya rumah sendiri.
Proficiat buat blog barunya pak….
pak menteri saya murid SMP mohon daerah bali juga diperhatikan/mendapatkan subsidi agar tidak ngontrak lagi
Selamat datang di bunia blogging. Selamat kepada Bapak, semoga ini merupakan salah satu “jembatan” antara menteri dengan rakyatnya.Semoga.
–
Terimakasih untuk ucapan selamat datang ini. Maaf terlambat merespon. Insya Allah memang blog ini diniatkan untuk jadi “jembatan” itu dengan sebanyak mungkin pihak.
wassalam
yusuf
Pak Mentri.. kalo bikin perumahan ke atas donk.. biar lahan buat pertanian, peternakan, de el el tidak cepat menyusut..
trims.
Pak, ane belum punya rumah neh, masih numpang di warnet, bisa kasih rumah murah ndak?? Ya, setidaknya rumah yang bisa dicicil ringan dan tanpa uang muka gitu… Tapi di daerah Surabaya atau Sidoarjo ya pak..
Sekali-kali berkunjung juga ya pak ke blog saya..
Selamat Pak Yusuf atas blognya. Saya turut bangga akan adanya menteri yang mengikuti perkembangan informasi media. Blogging adalah cara jitu untuk menjangkau masyarakat secara langsung.
Kudos for your great job, Pak.
Jennie S. Bev
Penulis buku “Rahasias Sukses Terbesar”
Semoga sukses dalam mengemban amanah. Dan semoga semakin banyak rumah yang dibangun untuk kecil, khususnya.
Mohon terus diperjuangkan Pak, supaya semua rakyat Indonesia ini benar-benar punya rumah di negerinya sendiri.
Salam kenal pak Menteri,
Semoga tujuan program yang dicanangkan dari pemerintah bisa tercapai seiring dengan dirasakan manfaatnya oleh kita rakyat Indonesia
Selamat datang di dunia blog pak !
CAYOO
Rici
Selamat datang di dunia blog, mudah-mudahan fasilitas ini bisa digunakan untuk berkesah orang-orang yang tak punya rumah seperti kami
met dateng di dunia blogging pk (smoga ga dikritik KRMT krn make dot com)
saya sbg kontraktor sejati (lum sanggup bayar DP huaaaa) sangat membutuhkan peran serta pemerintah utk penyediaan rumah murah. Maju trus dengan program2nya semoga bukan sekedar PROGRAM tanpa IMPLEMENTASI +++ blogg-nya juga makin rame.
Kritik dikit boleh ga pk: tulisan blogg-nya jgn sperti berita dunx hehehe ( ….demikian yusuf) biar lebih brasa gitu pak ngobrol-nya
Pak Menteri, saya gabung dengan yang lain mengucapkan selamat memasuki dunia maya. Kalau sempat, sudilah membuka tautan ini: Blog Pak Yusuf Asy’ari—Moga-moga Semua Rakyat Jadi Punya Rumah. Salam, Anwar.
kalau orang tak bekerja perusahaan/lembaga spt saya ini, mana mungkin bisa punya rumah sendiri. lha untuk daftar KPR saja perlu slip gaji….
tapi tetap saya ucapkan selamat datang di dunia blog. semoga pertemanan kita makin bernilai di mata Tuhan.
Selamat datang di dunia maya, pak Menteri.
Semoga bisa menjembatani komunikasi dengan rakyat secara lebih terbuka.
Sejauh saya tahu, pekerjaan rumah pemerintahan SBY di sektor perumahan cukup berat nih pak. Sekitar 9 juta unit untuk lima tahun? Sejauh ini sudah berapa persen yang terealisasi?
Untuk: Budi Putra, echodry, Jennie S.Bev, Rici, achedy, josephine, Agusti Anwar, mataharitimoer, dennymonoarfa, juga budiyono, Dini, QZoners, Gde BMW, dan Cahyo: Terima kasih untuk ucapan selamat datang yang hangat. Semoga saya “krasan” didunia yang masih asing ini. Terima kasih pula untuk kritik dan harapan2nya. Do’akan saya bisa jadi blogger yang baik. Eh, kelihatannya kalian ini masih muda2 usia ya? Sorry, saya sudah lahir lebih dulu dari kalian, jadi jangan heran kalau suatu waktu saya juga pergi lebih dulu dari kalian. Bagaimanapun, saya gembira menjadi blogger bersama kalian. Nah, selamat berkenalan!
loh pak menteri, mo pergi lebih dulu
btw, selamat bergabung ke dunia jurnal interaktif
Bukannya saya mau pergi duluan, tapi soal kepergian/kematian itu kan urusan Tuhan yang tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Itu soal ‘kontrak’ jadi kesimpulannya bisa saja Anda duluan
baru nemu link ini. selamat datang di dunia blog Pak Mentri (bukan Pak Manri lhoo). moga blog ini bisa jadi forum antara rakyat ma pemimpinnya. amiiin.
BTW saya baru 20 tahun pak :D.
Bagaimana dengan rumah-rumah liar yang sudah ditinggali bertahun2 (lebih dari satu dasawarsa) yang akhir-akhir ini digusur karena pemilik tanahnya pengen membangun sesuatu (mall misalnya, atau kafe)?
Sebagai pengembang perumahan skala kecil saya berpendapat, niatan mulia di level pusat/kabinet tidak bergaung di lapangan. Dalam kondisi otonomi daerah yang tidak keruan sekarang, pada berbagai sektor pemerintah pusat tidak mampu menegakkan kebijakannya untuk dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada Pak Menteri janji macam-macam dan dijadikan harapan oleh kami para pengembang, lebih baik duduk dan do nothing. Biarkan saja kami pengembang bertarung di lapangan dengan BPN, Dinas Tata Kota, Kantor PBB dan rekan, Camat, Lurah, RW,RT, GABUS, FORKABI, FPI,FBR. preman, PLN, Telkom, PDAM, Babinsa, Koramil. Selama biaya pertarungan masih mau dibayar konsumen, everybody is happy.
Masih banyak sekali keluhan-keluhan masyarakat Indonesia mengenai rumah tempat tinggal, bahkan ada yang merasa terpinggirkan di negeri tanah airnya sendiri. Semoga saja dengan blog ini, bisa menjadi salah satu media dari rakyat untuk mengeluarkan uneg-unegnya kepada Pak Menteri. Selamat blogging pak Menteri, semoga jadi menteri yang amanah menjalankan tugas.
Komunitas Mac dan Batere Indonesia mengucapkan selamat ngeblog buat Pak Yusuf! Sukses pak! Pemimpin yang perduli rakyat lah yang dijamin akan memperoleh Rumah Allah SWT.
Halo Pak Menteri!!!!!!!
Saya concern banget loh sama masalah perumahan yang bapak jelasin.
Trimaksih buat penjelasannya…
Smoga ga cukup disini aja program-program yang bakal ada
AMIN………
Sekali lagi MERDEKA !!
Salam kenal, Pak Yusuf.
Saya harap lebih banyak lagi para pemimpin Indonesia yang dapat mencontoh anda dalam memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menampung aspirasi rakyat. Kalo rakyat bisa dialog langsung dengan para pemimpinnya, negara kita ini akan maju lebih pesat lagi.
Mengenai artikel anda tentang pesatnya kemajuan kota dan daya tampung perumahan, saya tidak bisa banyak berkomentar berhubung saya ini orang awam di bidang tata kota dan perumahan. Tetapi saya mungkin bisa memberi sedikit pendapat dari sudut pandang saya sebagai ‘end-user’ dari kebijakan-kebijakan yang ada.
Pertumbuhan kota Surabaya selama beberapa tahun ini amat pesat. Berhubung sebelah utara dan timur Surabaya itu laut, pertumbuhan dan pembangunan kota Surabaya akhirnya melebar ke selatan dan barat. Jadi kalau anda keliling dari Surabaya Selatan ke Surabaya Utara, anda akan melihat kontras-nya antara bangunan-bangunan modern di Surabaya Selatan dan bangunan-bangunan kuno di Surabaya Utara (ada yang peninggalan Belanda, ada yang kumuh dan tak terawat, dan lain-lain).
Di Surabaya Selatan dan Barat sendiri, terdapat pemandangan yang menarik, yaitu apartment-apartment dan perumahan elite berdiri berdampingan dengan kampung-kampung yang penduduknya sebagian masih bertani, memelihara kambing, dll. Sayangnya para penduduk kampung-kampung sering kali menjadi korban para mafia tanah.
‘Bisnis’ mafia tanah ini sedang marak-maraknya di Surabaya. Mereka mengusir pemilik asli, baik melalui proses hukum (kalau pemilik asli kurang begitu tahu tentang aturan pertanahan dan ‘ketidak-tahuan’ mereka dimanfaatkan untuk mengambil alih tanah mereka) atau dengan paksa. Ada yang rumahnya dibakar, ada yang miliknya diratakan dengan buldoser secara tidak legal (tidak melalui jalur hukum), ada yang dikeroyok dan dipukuli. Bahkan jalan umum-pun dibeli, dan dibangun tembok sehingga rumah tidak diberi akses keluar masuk. Akibatnya, banyak penduduk yang harus merelakan tanah miliknya diambil begitu saja oleh para mafia tanah tersebut. Tanah-tanah tsb. kemudian dijual lagi dengan harga yang jauh lebih tinggi kepada para investor. (Anda dpt menghubungi saya lewat e-mail kalau anda ingin informasi lebih lanjut untuk mengklarifikasi keakuratan keterangan yang saya beri).
Jalur hukum-pun sudah banyak ditempuh oleh kawan-kawan kita ini. Polisi (setidaknya di Surabaya ini) sejauh ini sikapnya hanya menampung laporan-laporan dari masyarakat tanpa ada tindakan yang pasti. Ada seorang yang rumahnya diblokir (akses keluar masuk ditutup rapat dengan tembok - berhubung jalan umum didepannya di’beli’) dan oleh polisi disarankan untuk mengajukan laporan atas pasal perbuatan yang tidak menyenangkan. Itu-kan konyol sekali.
Tanpa dukungan hukum yang pasti, Sertifikat Hak Milik-pun tidak ada artinya. Apa artinya memiliki Sertifikat Hak Milik kalau kepemilikan tersebut tidak didukung sepenuhnya oleh hukum dan undang-undang yang ada?
Mohon pendapatnya.
Ya gimana engga tambah banyak slum area kalau rencana tata kota-nya aja juga engga bener. If you have a plan (a city plan that is), stick to it.
Jangan tiap rezim ganti diubah mulu, ya engga beres - beres nantinya.
Saya baru menemukan sebuah blog (antara lain) mengenai perumahan, dan cukup menarik. Sebuah contoh artikelnya saya lampirkan disini :
Other interesting articles :
1. [ Problems with Supply-driven Low-income Flats - Part 1 ] — [ Part 2 ]
2. [ When Indonesia’s VP and Jakarta’s Governor Exchange Statements about Low-income Flats - Part 1 ] — [ Part 2 ]
3. [ Low-income flats are profitable! ]
Proyek 15 ribu RuSun-nya gimana nih pak? Udah jalan blm ya?
Kalo ga salah, dulu sewaktu awal menjabat juga pernah menjanjikan akan membangung ratusan ribu rumah yang diberikan secara gratis kepada warga miskin, kok sampai sekarang saya belum dengar lagi nih?
alhamdulillah… langkah ini harus di tiru menteri lain…sekalian aja pak ajak pak anton dan pak adhiyaksa
trus jangan anti kritik pak..
komentar apapun… yang membangun atau nggak tetap di dengar dan di perhatikan.. ingat kejadian khalifah umar kan..
so selamat bergabung di dunia bloging
alhamdulillah… langkah ini harus di tiru menteri lain…sekalian aja pak ajak pak anton dan pak adhiyaksa
trus jangan anti kritik pak..
komentar apapun… yang membangun atau nggak tetap di dengar dan di perhatikan.. ingat kejadian khalifah umar kan..
so selamat bergabung di dunia bloging
-
Terimakasih untuk komentar Anda. Tentu kalau kita mampu kita akan menteladani akuntabilitas dan transparansi yang ditunjukkan Khalifah Umar. Cuma barangkali lihat situasi dan kondisi itu perlu waktu juga. Insya Allah kita semua akan berhasil dengan doa Anda.
wassalam
yusuf
ARS said on September 14, 2006 at 7:33 pm | Edit This
Proyek 15 ribu RuSun-nya gimana nih pak? Udah jalan blm ya?
Kalo ga salah, dulu sewaktu awal menjabat juga pernah menjanjikan akan membangung ratusan ribu rumah yang diberikan secara gratis kepada warga miskin, kok sampai sekarang saya belum dengar lagi nih?
-
Dari awal tidak ada janji membagi-bagi rumah gratis karena memang tidak ada anggaran untuk itu. Sejak awal juga tidak ada janji 15 ribu Rusun. Yang ada adalah upaya untuk membangun 1000 Rusun dalam 5 tahun. Itu pun dengan catatan apa bila pendanaannya tersedia. Doakan saja agar kita semua bekerja ke arah sana. Amin.
Wassalam
yusuf
Ya gimana engga tambah banyak slum area kalau rencana tata kota-nya aja juga engga bener. If you have a plan (a city plan that is), stick to it.
Jangan tiap rezim ganti diubah mulu, ya engga beres - beres nantinya.
–
Karena itulah saat ini sedang diproses Rencana Undang-undang Tata Ruang (RUU TR) dengan penanggungjawab PU karena tata ruang ada di sana. Diharapkan dengan demikian masalah ini bisa teratasi meski harus kita sadari pula bahwa segala sesuatunya kembali kepada faktor manusianya. Semoga ini menjadi ikhtiar kita bersama.
Wassalam
yusuf
Di Indonesia ada model untuk menata suatu kawasan atau lingkungan yaitu Konsolidasi Tanah (KT), tetapi model ini kurang diperhatikan oleh pemerintah. Seharusnya KT dapat dikembangkan untuk mencegah permukiman kumuh, menyediakan infrastruktur lingkungan permukiman, dan sekaligus menyediakan lahan tertata bagi kebutuhan lahan permukiman. Seharusnya model ini dikembangkan untuk mengantisipasi pertumbuhan dan perkembangan kota-kota di Indonesia. Bagaimana dengan pemerintah terutama pemda prop/kab/kota? kapan model ini akan menjadi andalan bagi pembangunan kota?
Ass Bp Yusuf,
Tertarik dengan masalah Kasiba Lisiba BS yg diamanatkan UU 4/1992 tentang Perkim jo PP 80/1999 yg menjadi aturan pelaksanaannya. Kami dengar UU 4/1992 sedang direvisi? Bagaimana Pak, Rencana Revisi UUnya? Dengan revisi tsb, apakah PP 80/1999 lalu untuk sementara di non aktifkan? Sekarang RP4D akan digalakan lagi sebagai pengganti kegiatan Kasiba Lisiba BS? Mungkin perlu di inventariasi semua aturan yang nyangkut perkim. Mana yang masih berlaku dan mana yang tidak. Rasanya ada kecenderungan duplikasi antara tugas Deputi Pengembangan Kawasan dengan Subdit Bangkim Baru, Ditjen CK? Maklum dulu kan merupakan kebijakan Ditjen Perkim, sewaktu Dep. Kimpraswil. Perkim di negara maju di kenal dengan Housing and Setlement? Apa ada maksud untuk memisahkannya? Menpera kaitan dng perumahan. Dep PU, masalah permukimannya? Kalau tidak salah tupoksi Kementerian Negara terkait dengan kebijakan. Sedangkan Departemen operasional (vide PP no 9/2005 tentang tupoksi kementerian negara)
Mohon maaf nungsung pawartos Pak. Matur Nuwun.
Kalo cuma memikirkan perumahan, tanpa mempertimbangkan aspek lain, percuma. Tidak akan berhasil.
Seharusnya secara integral,lintas bidang.
Contoh : kebutuhan lahan kota untuk perumahan memaksa masyarakat pertanian semakin terpojok ke pinggiran, karena harga modal tanah semakin tinggi tidak sebanding dengan produksi pertanian (harga bahan pangan diatur). Di samping itu, pertumbuhan ekonomi (uang)yang tidak merata (kapitalis) tanpa jaminan sosial tidak ada.
Berbeda dengan negara maju, walaupun kapitalis tapi orang tidak punya tetap dapat jaminan sosial.
Makasih.
Assalamu ‘alaikum__
Pak menteri saya mw merepotkan nih. bisa saya minta data tentang laju pertumbuhan perumahan dan hunian apartemen di wilayah JADETABEK, untuk bahan riset saya.
Jazakillah
Pak menteri, mbok dipikirkan buat Rusunawa yang sekalian memberdayakan penghuninya, supaya tidak selamanya menyewa di Rusunawa. Sebenarnya Kota Yogya udah coba merintis, namun masih kebingungan membuat pola pemberdayaannya, sementara baru pengelolanya memberdayakan masyarakat sekitar Rusunawa. Hal yang lebih penting sebenarnya memberdayakan penghuni Rusunawa dengan program-program yang difasilitasi pemerintah daerah atau pusat. Terima kasih
Bpk. Menteri yang terhormat.
Sehubungan dengan rancana pemerintah untuk membangun perumahan rakyat maka dengan ini saya mohon agar kepada kami diberikan kesempatan untuk bertemu guna menjelaskan rencana pembangunan rumah rakyat di- Jl. MT. Haryono. Perlu Bpk. ketahui tanah di MT. Haryono kurang lebih 7,5 Ha. dan sedang kami rencanakan untuk membangun rumah susun. untuk itu mohon balasan dari Bpk. untuk membalas email kami ke alamat email tersebut.
Terima Kasih
Hormat saya.
Teuku Raja Sayang.
Assalamu’alaikum pa saya elok ratnasari anak dari alm. A.Nuryani. Saya sudah membaca beberapa artikel tentang rumah. di lampung ini dengan pengajuan kredit dengan dp knapa biaya yang diajukan developer untuk biaya provisi bank terlalu besar. dan bulanan juga besar? knapa untuk pns ada bantuan dari pemerintah tapi pegawai swasta tidak minimal bunga bank - nya disubsidi. mohon bantuan doa karena sekarang saya sedang beli rumah dengan proses kredit. Pa no telepon rumah di jakarta berubah menjadi 021-98158252. wassalamu’alikum
sugeng siang pak mentri… yah sebagai mahasiswa planologi yang sedang meneliti masalah perumahan semakin jauh saya meneliti kok ya semakin saya prihatin nasib MBR!!
perumahan kok ya masih jadi masalah klasik yang belum bisa dipenuhi secara layak oleh para pemimpin:( ingat pak!! tiap hari penduduk miskinnya nambah kebutuhan rumahe juga nambah.. sebenernya saya cukup ngeh lah sama program-program perumahane tapi kok ya mandheg2 mulu di tengah jalan.. saya sedang meneliti kredit mikro perumahane kemenpera, moga2 program ini dapat jadi alternatif bagi MBR ya pak mentri.. good luck & jgn lupa selalu melihat ke bawah ya bozzz
Selamat atas keberadaan blog ini. Saya cuman saran untuk seluruh Pemda di Indonesia, agar setiap pemecahan sertifikat yang diajukan oleh setiap pengembang yang sesuai dengan siteplan yang telah direncanakan, khusus untuk sertifikat Fasilitas Sosial dan Fasilitas Umumnya langsung diatas namakan kepada Pemda masing-masing. Hal ini perlu dilakukan guna menghindarkan perubahan status peruntukan dan hilangnya fasos dan fasum.Terlebih lagi mengingat pentingnnya apa yang disebut dengan KASIBA dan LISIBA yang mengacu pada RTRW masing-masing kota. Trims
Assalamualaikum…
Pak, saya sedang menulis tentang rumah “berharga murah” dan rumah “berbiaya murah”. Apakah Bapak ada masukan (kebijakan, data, atau opini, dll, dsb) tentang ini? Terima kasih
Wassalamualaikum….
jangan patah semangat pak, rakyat membutuhkan anda
Pak Menteri
saya mahasiswa arsitektur UGM ingin bertanya tentang pendapat bapak mengenai kebijakan perumahan saat ini, apakah sudah sesuai dengan visi kerakyatan?
terima kasih sebelumnya…
Mo tanya apa betul dari kementrian Perumahan rakyat ada program bantuan Perumahan Bagi Pondok Pesantren / kopontren yang besarnya 9 dj per orang , untuk purwakarta jabar katanya ada 3 kopontren yang diajukan oleh konsultan diantaranya pesantren / Kopontren Darul Hikmah, ana takut kalo konsultan itu ngibul , terima kasih
Pepen efendi
Kopontren darul hikmh, Ds Karyamekar Kec Cibatu Purwakarta 41181 Jabar
To: pepen efendi
Program 9 juta itu program kredit mikro perumahan melalui BMT atau koperasi, untuk penjelasan lebih lanjut, anda hubungi saja Website Kemenpera.go.id